Sejak 1997, Atiek bergabung dengan Yayasan Wisnu sampai sekarang, ia memiliki banyak pengalaman dalam pendampingan masyarakat dan sebagai fasilitator, termasuk penulisan sebagian besar materi pendidikan Wisnu.

Wisnu Foundation was founded in 1993, in response to the environment problems in Bali, especially the waste produced by tourism industries. After reformation in Indonesia, since 1999 Wisnu has focused on environment management and community empowerment. Today, the focus of Wisnu’s programs are research and mapping, community empowerment, and information management of community resources.

Sejak 1997, Atiek bergabung dengan Yayasan Wisnu sampai sekarang, ia memiliki banyak pengalaman dalam pendampingan masyarakat dan sebagai fasilitator, termasuk penulisan sebagian besar materi pendidikan Wisnu.

Yuni orang yang mudah bergaul, telah bekerja di berbagai program dari organisasi maupun swasta selama lebih dari 15 tahun.

Ia bagian dari Pengurus Yayasan Wisnu saat ini, setelah menjadi Direktur Wisnu periode 2017-2022. Denik masih membantu Wisnu di tengah kesibukannya sebagai Ketua Pelaksana Harian AMAN Bali (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara).

Lebih dari 4 tahun pengalaman mengembangkan produk-produk alami.
The idea of Plastic Waste Pyramid came from Teguh Ostenrik, who was the pioneer of the established of Wisnu Foundation on 1993. Yes, plastic may be recycled into brick, however, some points need to be criticised:
In its first 6 years, Wisnu worked on various environment activities, from awareness to the application of environment management, especially waste. Environment is a living space while the community is its owner. Wisnu then decided to focus its activities on Community Resource Management (SDK), on its way to becoming Desa Hebat (Great Village)!!!