{"id":10736,"date":"2012-02-29T09:25:43","date_gmt":"2012-02-29T09:25:43","guid":{"rendered":"http:\/\/eco-press.cmsmasters.net\/?p=10736"},"modified":"2017-12-02T06:44:13","modified_gmt":"2017-12-02T06:44:13","slug":"denpasarinside","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/2012\/02\/29\/denpasarinside\/","title":{"rendered":"Ada Apa Saja di Denpasar"},"content":{"rendered":"<style type=\"text\/css\"><\/style><p>Melewatkan 10.00-14.00 di 21 Maret 2012 dengan Dokar<\/p>\n<p>Tuk tik tak tik<br \/>\ntuk tik tak tik<br \/>\ntuk tik tak tik tuk &#8230;<br \/>\nTuk tik tak tik<br \/>\ntuk tik tak<br \/>\nSuara sepatu kuda &#8230;<\/p>\n<p>World Silent Day kali ini &#8216;dirayakan&#8217; dengan unik. Berkeliling kota Denpasar naik dokar, sambil membuat peta hijau. Selain tidak menimbulkan emisi karbon, naik delman istimewa juga mengingatkan kita pada satu sisi lain dampak &#8216;pembangunan&#8217;. Ternyata, ada sekelompok orang yang termarjinalkan oleh kedatangan kendaraan bermotor: Pak Kusir.<\/p>\n<p>Pak Nyoman, sudah berprofesi sebagai kusir sejak tahun 1963, setelah Gunung Agung meletus. Ketika itu, selain sepeda, dokar adalah kendaraan utama di Denpasar. Dokar mengalami kejayaan sampai 1980-an. Ada sekitar 150 armada dokar di seluruh kota. Memasuki 1990, jumlah armada mulai mengalami penurunan. Dokar menguasai jalan raya bersamaan dengan ojek dan bemo sebagai kendaraan umum. Semakin lama jumlah dokar semakin menurun &#8230; terutama ketika motor bisa dibeli dengan sangat mudah dan murah. Saat ini jumlahnya tidak sampai 60 dokar di seluruh kota.<\/p>\n<p>Saat ini jarang sekali orang Denpasar mau naik dokar &#8211; hanya orang tua, atau ada pesanan keliling kota mengantar anak sekolah atau turis. Namun bukan hanya itu yang menyebabkan jumlah dokar semakin menurun. Rumput untuk pakan kuda juga sudah semakin sulit didapat. Lahan yang dulunya ditumbuhi rumput, sudah berganti dengan bangunan. Sementara kalau harus beli dedak sangat sulit karena tidak ada pendapatan dari penumpang. Dan, sama seperti petani, profesi sebagai kusir tidak disukai oleh anak muda. Sebagian besar kusir yang ada adalah orang-orang tua. Ada anak muda, tetapi orang Jawa atau Lombok.<\/p>\n<p>Empat jam bersama Pak Kusir dan kudanya yang sudah berumur 50 tahun &#8230; jalur yang dilalui seperti garis merah pada gambar berikut, dimulai dari dan berakhir pada titik kuning, Jl. Kartini-Jl. Gajah Mada.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-12160 alignleft\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/dps1-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"225\" srcset=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/dps1-300x225.jpg 300w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/dps1-768x576.jpg 768w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/dps1-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/dps1-580x435.jpg 580w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/dps1-860x645.jpg 860w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/dps1-1160x870.jpg 1160w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/dps1-1440x1080.jpg 1440w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/dps1.jpg 1600w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/>Apa saja yang bisa dilihat di Denpasar?<\/p>\n<ol>\n<li>Bale bengong &#8211; sebelum mulai berangkat dari Jl. Kartini, foto dulu!<\/li>\n<li>Pasar kecil, juga di Jl. Kartini<\/li>\n<li>Museum Bali &#8211; ada Mobil Pusat Layanan Internet Kecamatan di depan museum. Ada pohon kamboja tua yang sangat artistik, dan di sebelahnya ada patung Budha. Nah, di salah satu pintu penghubung, ada patung perempuan yang mungkin umurnya sama dengan Museum Bali: 110 tahun! Hmmm &#8230; udara sangat segar karena banyak pohon besar.<\/li>\n<li>Penikmat jalan raya: Anak-anak senang melihat dokar &#8230; &#8220;mau ikut dik?&#8221;, Rambut dicat dan kuku berkutek &#8230; keingingan anak atau orang tua ya?, &#8220;Helm adik mana, Pak? Panas &#8230;&#8221;<\/li>\n<li>Air di jalan raya &#8211; ada pipis kuda dan genangan air &#8230; padahal tidak hujan.<\/li>\n<li>Lagi &#8230; POHON BESAR! Dan, ada yang memanfaatkan batangnya untuk mengikatkan tali spanduk &#8220;usir segala yang jahat&#8221;. Selain pohon, sungai di Denpasar juga terjaga &#8230; tertata rapi dan tidak ada sampah. Hebat!!!<\/li>\n<li>Kehidupan selalu diwarnai dengan dua hal yang berbeda dan mungkin memang saling melengkapi &#8230; plastik! Jika barang-barang yang terbuat dari plastik dikeluarkan dari dalam rumah kita, seberapa kosong ya isi rumah kita?<\/li>\n<\/ol>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-12161 alignleft\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/dps2-300x225.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"225\" srcset=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/dps2-300x225.jpg 300w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/dps2-768x576.jpg 768w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/dps2-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/dps2-580x435.jpg 580w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/dps2-860x645.jpg 860w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/dps2-1160x870.jpg 1160w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/dps2-1440x1080.jpg 1440w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2016\/06\/dps2.jpg 1600w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/>Ternyata Denpasar adalah kota yang masih cukup indah. Apalagi jika jalan raya tidak terlalu dipadati kendaraan bermotor. Suatu saat, mungkin &#8230; akan ada satu jalur di Denpasar yang hanya boleh dilalui oleh dokar, sepeda, dan pejalan kaki. Hmmm &#8230; !!!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Best building company with talented team for any occassion. Lorem imsup dolor sit amet. Providing high quality service and expertise eget sagittis.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":12159,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"image","meta":{"_mi_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[3,4],"tags":[35,31],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"2.12.2","language":"id","enabled_languages":["en","id"],"languages":{"en":{"title":true,"content":true,"excerpt":true},"id":{"title":true,"content":true,"excerpt":false}}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10736"}],"collection":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10736"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10736\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12429,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10736\/revisions\/12429"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12159"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10736"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10736"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10736"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}