{"id":12810,"date":"2019-11-26T05:29:33","date_gmt":"2019-11-26T05:29:33","guid":{"rendered":"https:\/\/wisnu.or.id\/?p=12810"},"modified":"2019-11-26T05:49:24","modified_gmt":"2019-11-26T05:49:24","slug":"exploring-the-village-potential","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/2019\/11\/26\/exploring-the-village-potential\/","title":{"rendered":"Menjelajah Potensi Desa"},"content":{"rendered":"<style type=\"text\/css\"><\/style><p>Sejak dipilihnya Yayasan Wisnu sebagai lembaga payung (host) di Nusa Penida pada bulan April 2018 oleh Global Environment Facility for Small Grants Programme (GEF-SGP), Yayasan Wisnu mulai melakukan assessment di wilayah \u2013 wilayah yang telah ditentukan, yaitu:<\/p>\n<ul>\n<li>Banjar Semaya \u2013 Desa Suana<\/li>\n<li>Banjar Tanglad \u2013 Desa Tanglad<\/li>\n<li>Banjar Dinas Batukandik 2 \u2013 Desa Batukandik<\/li>\n<li>Banjar Mawan \u2013 Desa Batumadeg<\/li>\n<\/ul>\n<p>Ke-4 desa tersebut menjadi pioneer dalam pelaksanaan program \u2013 program ekologis di Nusa Penida. Dengan mengangkat tema: Peningkatan Ketahanan Sosial Budaya \u2013 Ekologis Masyarakat dalam Menghadapi Desakan Globalisasi di Pulau Kecil, kegiatan dimulai dengan pemetaan wilayah di masing \u2013 masing banjar bersama \u2013 sama dengan Yayasan PPLH Bali untuk mengetahui potensi wilayahnya. Bersama anak \u2013 anak muda ke-4 banjar mulai menggali cerita atau potensi yang ada di desanya, termasuk mengukur batas \u2013 batas desanya yang didampingi oleh para tokoh desa setempat. Anak muda dipilih untuk memberikan wawasan dan menjajaki potensi yang dimiliki desanya. Sehingga mereka memiliki pemahaman dan semangat untuk membangun desanya di masa mendatang.<\/p>\n<p>Beberapa hasil pemetaan dan potensi desa telah dibuatkan dalam sebuah buku, berikut adalah tautan hasil pemetaan yang dilakukan oleh pemuda \u2013 pemudi desa:<\/p>\n<ul>\n<li><a href=\"https:\/\/wisnu.or.id\/documents\/2019\/11\/semaya-booklet.pdf\">Banjar Dinas Semaya<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/wisnu.or.id\/documents\/2019\/11\/tanglad-booklet.pdf\">Banjar Dinas Tanglad<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/wisnu.or.id\/documents\/2019\/11\/mawan-booklet.pdf\">Banjar Adat Mawan<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/wisnu.or.id\/documents\/2019\/11\/batukandik-ii-booklet.pdf\">Banjar Dinas Batukandik II<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<p>Permasalahan yang dihadapi saat program mulai dejalankan adalah derasnya kunjungan wisatawan ke Nusa Penida, sehingga membuat sebagian besar anak muda di masing \u2013 masing desa bekerja di sector pariwisata di wilayah \u2013 wilayah yang ramai aktifitas wisatawannya di Nusa Penida. Berdasarkan data yang kita peroleh paling tidak terdapat 3.000 wisatawan per hari saat musim wisatawan dan 300 wisatawan per hari saat musim kurang wisatawan. Banyak pula diantara mereka yang melanjutkan sekolahnya ke Denpasar, sehingga membuat suasana kampung sepi oleh anak muda.<\/p>\n<p>Respon anak muda setelah mengikuti kegiatan pemetaan rata \u2013 rata mengatakan baru kali ini mereka menelusuri desanya dan menggali cerita yang ada di desanya. Bahkan orang tua pun banyak yang tidak mengetahui sejarah dan batas desanya, dengan adanya kegiatan ini diharapkan menjadi acuan pembelajaran bagi masyarakat di masing \u2013 masing desa akan potensi yang mereka miliki.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejak dipilihnya Yayasan Wisnu sebagai lembaga payung (host) di Nusa Penida pada bulan April 2018 oleh Global Environment Facility for Small Grants Programme (GEF-SGP), Yayasan Wisnu mulai melakukan assessment di wilayah \u2013 wilayah yang telah ditentukan, yaitu: Banjar Semaya \u2013 Desa Suana Banjar Tanglad \u2013 Desa Tanglad Banjar Dinas Batukandik 2 \u2013 Desa Batukandik Banjar&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":12811,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_mi_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[2,3,4,5],"tags":[47],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"2.12.2","language":"id","enabled_languages":["en","id"],"languages":{"en":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"id":{"title":true,"content":true,"excerpt":false}}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12810"}],"collection":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12810"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12810\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12830,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12810\/revisions\/12830"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12811"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12810"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12810"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12810"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}