{"id":13272,"date":"2022-10-05T12:12:55","date_gmt":"2022-10-05T04:12:55","guid":{"rendered":"https:\/\/wisnu.or.id\/?p=13272"},"modified":"2022-11-05T13:13:42","modified_gmt":"2022-11-05T05:13:42","slug":"down-to-the-mertajati-forest-tamblingan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/2022\/10\/05\/down-to-the-mertajati-forest-tamblingan\/","title":{"rendered":"Menyusur Alas Mertajati Tamblingan"},"content":{"rendered":"<style type=\"text\/css\"><\/style><p><span style=\"font-weight: 400;\">Adat Dalem Tamblingan, 4 Oktober 2022<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Program Memuliakan Kembali<em> Alas Mertajati Tamblingan<\/em> sudah dilakukan sejak tahun 2018. Bersama <em>Dedicated Grant Mechanism Indonesia<\/em> yang dikelola oleh The Samdhana Institute, program ditujukan untuk mengembangkan hutan Adat Dalem Tamblingan Catur Desa Buleleng sebagai pusat belajar hutan lestari berbasis tradisi, untuk mengembalikan kesucian dan fungsi kawasan hutan dan danau Tamblingan sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Alas Mertajati<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelumnya, pada tahun 2017 sudah dilakukan kesepakatan kerja sama antara Yayasan Wisnu dengan Adat Dalem Tamblingan di Catur Desa. Hal terpenting dari kesepakatan tersebut adalah Yayasan Wisnu dan Adat Dalem Tamblingan (ADT) akan bekerja sama dalam hal pengembangan program pembangunan Sistem Informasi Adat yang berbasis pada hasil Pemetaan Spasial dan Sosial Budaya di Catur Desa dalam bentuk pangkalan data (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">data base<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) Adat untuk mengembalikan kelestarian Alas Mertajati, Sumber Kehidupan masyarakat ADT.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Hal pertama yang dilakukan adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat ADT, khususnya generasi muda tentang\u00a0 nilai penting mengetahui batas wilayah desa dan segala potensi yang ada di dalamnya, baik potensi sumber daya maupun permasalahannya. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencapainya adalah melalui pemetaan\u00a0 wilayah dan riset sosial budaya secara partisipatif. Data yang dikumpulkan kemudian diolah secara digital.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-13274 aligncenter\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/IMG_20221004_152453-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"466\" height=\"248\" \/><\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Hasil yang diharapkan dari program Memuliakan Kembali Alas Mertajati Tamblingan adalah Masyarakat ADT mendapatkan pengakuan hak pengelolaan hutan adat dan Kawasan Adat Dalem Tamblingan siap dikembangkan sebagai pusat belajar hutan lestari berbasis tradisi. Ada banyak kegiatan yang dilakukan, di antaranya adalah memetakan batas wilayah dan mengumpulkan data potensi kawasan adat, mengadakan Taman Gumi Banten untuk memenuhi kebutuhan tanaman upacara, mengolah sumber daya alam terutama sumber pangan, serta menyusun paket belajar Hutan Lestari Berbasis Tradisi. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Selain paket belajar, melalui program ini juga dihasilkan empat buku, yaitu Profil Masyarakat Adat Dalem Tamblingan, Kekayaan Vegetasi dan Fauna Alas Mertajati, serta Jalan-jalan bersama Putu Cening ke Alas Mertajati dan Mewarnai Kisah Mertajati untuk siswa Sekolah Dasar. Dokumentasi juga dibuat dalam bentuk video, yaitu Sang Sumber Kehidupan dan Kampanye Dukungan pada Alas Mertajati. Kesemuanya bisa dilihat dalam www.wisnu.or.id\/books dan laman Youtube Yayasan Wisnu. Sebagai Pusat Belajar Hutan Lestari Berbasis Tradisi, dibangun pula Bale Melajah Alas Mertajati yang energinya bersumber dari sinar matahari. Bale Melajah ini diresmiskan pada tanggal 26 Juni 2021. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><b>Menikmati Kekayaan Oksigen Alas Mertajati<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Tim DGM Indonesia, Samdhana, dan World Bank tiba dan disambut di Bale Melajah pada sekitar pukul 9 pagi. Cuaca agak mendung, angin bertiup cukup dingin. Kopi munduk dan teh secang cukup memberikan kehangatan, ditemani klepon serta keripik keladi dan keripik pisang, sambil saling berkenalan dan mendengarkan penjelasan tentang kawasan Alas Mertajati yang disucikan oleh masyarakat ADT. Hal terpenting adalah permohonan untuk mengembalikan Alas Mertajati menjadi hutan adat akan terus diperjuangkan, serta diharapkan tim DGM Indonesia dan The Samdhana Institute akan tetap mendukung upaya yang dilakukan.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Perjalanan mengenal Alas Mertajati dimulai dari Danau Tamblingan, menyusuri danau menggunakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">pedau<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dari Pura Gubug ke Pura Dalem Tamblingan. Sinar matahari yang tidak terlalu terik memberikan kesan kehidupan masa lalu, terutama karena perjalanan dilakukan dengan mendayung <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">pedau<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Satu hal yang pasti, semua peserta mendapatkan oksigen berlebih, sehingga menciptakan ketenangan dan kedamaian.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pura Dalem Tamblingan menyimpan tinggalan megalitik, terdapat tinggalan arkeologi berupa lingga yoni yang terbuat dari batuan andesit. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Pura Endek melalui jalan setapak di dalam hutan. Pura Endek atau Kentel Gumi merupakan pura \u201cIbu\u201d, tempat ditemukannya prasasti Gobleg. Pura ini juga menyimpan tinggalan megalitik sebagai media pemujaan kekuatan alam Alas Mertajati.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-13275 aligncenter\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/IMG_20221004_093725-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"494\" height=\"260\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari Pura Endek, menyusuri tepi hutan, tim kembali ke Bale Melajah. Karena sudah menjelang makan siang, tepat ketika hujan deras turun, kami meninggalkan Bale Melajah menuju Arena Desa Gobleg. Makan siang sudah siap, semua masakan yang disajikan sudah menunggu untuk disantap. Nyammm \u2026<\/span><\/p>\n<p><b>Refleksi \u201cMemuliakan Kembali Alas Mertajati Tamblingan\u201d<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kunjungan DGM Indonesia, Samdhana, dan World Bank kali ini ditujukan untuk melihat langsung hasil dan membicarakan proses yang sudah dilakukan dalam program, serta pembelajaran yang didapatkan. Tim disambut oleh Dane Pengerajeg, Ketua dan Pengurus Tim Sembilan Adat Dalem Tamblingan, aparat Catur Desa, pengurus dan anggota BRASTI, serta kelompok ibu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa pembelajaran yang bisa dipetik adalah:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Masyarakat Adat Dalem Tamblingan mendesain Alas Mertajati sebagai kawasan suci, namun pemerintah mendesainnya menjadi kawasan TWA (Taman Wisata Alam). Setiap daerah memiliki ilmu konservasinya masing-masing, sementara pemerintah ingin menyeragamkannya. Padahal, kekuatan Nusantara justru terletak pada kbhinekaannya.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tanda-tanda budaya Adat Dalem Tamblingan sudah jelas, artefak dan pura sangat banyak, namun hak kelola belum bisa didapatkan. Ada ketimpangan antara kebijakan dengan kenyataan yang ada di lapangan, urusan legalitas menjadi sangat rumit. Perlu ada cara agar pemerintah mau memperhatikan secara serius.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Keberlanjutan program ditentukan oleh generasi muda yang terlibat. Pelibatan generasi muda perlu terus dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan yang menarik minat anak muda, sambil memberikan pemahaman tentang Alas Mertajati.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai penutup, satu puisi dari Bapak Lalu Prima, SC DGM Indonesia:<\/span><\/p>\n<p><b>Ikrar Mertajati<\/b><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Wahai kamu, apa yg kamu mau &#8230;<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Apa kamu ingin agar kami tidak mengakui negara kalau negara\u00a0 tidak mengakui kami<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Jika demikian &#8230;<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Kami akan mengurus wilayah adat kami kalau negara tidak mau mengurusnya &#8230;<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Biar kamu tahu, Kami bukan tuan bagi alam \u2026\u00a0<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Alam\u00a0 darah dan daging dalam tubuh kami<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Alam sahabat setia, bukan budak belian yg diperjual belikan<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Alam bukan pula wanita malang yg seenaknya bisa\u00a0 diperkosa<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Alam adalah ibu sebagai wakil Tuhan\u00a0 memberikan kasih sayang seluas semesta\u00a0<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Alam mengajarkan kami tentang jalan memuja sang pencipta<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Alam menyiapkan kami sumber kehidupan agar kami terhindar dari kepunahan<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Cukup sudah alam ini kami titipkan<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu tidak pernah paham bagaimana mengurusnya<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Ini bukan tentang Hidupku &#8211; Hidupmu &#8211; Hidup kita<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi tentang kehidupan<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Maka\u00a0 kembalikan pada\u00a0 kami untuk mengurusnya &#8230;<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Hari ini juga&#8230;<\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Adat Dalem Tamblingan, 4 Oktober 2022 Program Memuliakan Kembali Alas Mertajati Tamblingan sudah dilakukan sejak tahun 2018. Bersama Dedicated Grant Mechanism Indonesia yang dikelola oleh The Samdhana Institute, program ditujukan untuk mengembangkan hutan Adat Dalem Tamblingan Catur Desa Buleleng sebagai pusat belajar hutan lestari berbasis tradisi, untuk mengembalikan kesucian dan fungsi kawasan hutan dan danau&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13273,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_mi_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[55,2,3,4,5],"tags":[],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"2.12.2","language":"id","enabled_languages":["en","id"],"languages":{"en":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"id":{"title":true,"content":true,"excerpt":false}}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13272"}],"collection":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13272"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13272\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13278,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13272\/revisions\/13278"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13273"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13272"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13272"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13272"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}