{"id":13370,"date":"2023-09-13T20:50:20","date_gmt":"2023-09-13T12:50:20","guid":{"rendered":"https:\/\/wisnu.or.id\/?p=13370"},"modified":"2023-09-13T20:58:49","modified_gmt":"2023-09-13T12:58:49","slug":"3rd-archipelago-jamboree-and-2nd-southeast-asian-youth-conference","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/2023\/09\/13\/3rd-archipelago-jamboree-and-2nd-southeast-asian-youth-conference\/","title":{"rendered":"Jambore Nusantara III dan Konferensi Pemuda Asia Tenggara II"},"content":{"rendered":"<style type=\"text\/css\"><\/style><p><span style=\"font-weight: 400;\">The Samdhana Institute, sebuah lembaga yang dibentuk pada tahun 2003 oleh sekelompok konservasionis serta para aktivis pembela HAM dan ahli pembangunan, tahun ini merayakan 20 tahun kehadirannya sebagai bagian dari gerakan sosial dan lingkungan di Asia Tenggara. Berdasarkan hal tersebut, Samdhana bekerjasama dengan BRASTI dan Yayasan Wisnu menyelenggarakan pertemuan ketiga dari Para Pemimpin Muda se-Nusantara dan Asia Tenggara untuk mendengar suara-suara dari masa depan, terkait hidup dalam perubahan iklim. Kerja sama kegiatan dikemas dalam pertemuan Jambore Nusantara III dan Konferensi Pemuda Asia Tenggara II, sebagai upaya memaknai konsep <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Segara-Gunung<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jambore diselenggarakan selama lima hari, pada tanggal 20 Agustus 2023 hingga 25 Agustus 2023 di kawasan Adat Dalem Tamblingan di Catur Desa, Buleleng, Bali. Kegiatan Jambore dipusatkan di lapangan Desa Gobleg, dan areal perkemahan bagi peserta dan panitia berada di areal perkebunan Yayasan Kayusambuk. Sejumlah 80 peserta yang berasal dari Filipina, Mekong (Thailand, Myanmar, Vietnam, Laos, Kamboja), Indonesia (Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Bali) tiba pada hari Minggu, tanggal 20 Agustus 2023. Peserta dari Bali sendiri berasal dari seluruh kabupaten\/kota yang ada, kecuali Bangli. Sebelum pelaksanaan kegiatan, pada hari Minggu tanggal 20 Agustus 2023 dilakukan persembahyangan di beberapa tempat, yaitu ke Pura Pemulungan Agung, Pura Dalem, Pura Prajapati, Pura Bagawati, Pesiraman Celebung, Pelinggih Kayusambuk, Pelinggih Penunggun Karang, dan Pelinggih Taman.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-13373\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/EWV00355-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"492\" height=\"320\" \/><\/p>\n<p><b>Senin, 21 Agustus 2023 \u2013 Pembukaan dan Dialog Kebudayaan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Acara dibuka dengan menampilkan tari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pendet<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan tabuh kreasi kebyar berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Semara Danu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Tari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pendet<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> merupakan tari penyambutan, sementara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Semara Danu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> terinspirasi dari prinsip <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Danu Kerthi Paraning Wana Kerthi Huluning Amertha<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, yang artinya memuliakan keberadaan danau dan hutan sebagai sumber kehidupan. Peserta dan para undangan disambut oleh Dane Pengerajeg Adat Dalem Tamblingan (I Gusti Agung Ngurah Pradnyan), Direktur Samdhana Institute di Indonesia (Martua T. Sirait), dan perwakilan PJ Bupati Buleleng (Gede Melandrat &#8211; Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Buleleng). Selanjutnya para undangan pada acara pembukaan ini diberi kesempatan untuk melihat Pameran Praktik Baik melalui karya seni foto dan produk olahan komunitas, ditujukan sebagai media pembelajaran antar komunitas terkait pengelolaan wilayahnya. Setiap region menampilkan kisah dan karyanya, yaitu Mekong, Filipina, Kalimantan, Bali, Papua, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, Sumatera dan Maluku.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah makan siang, peserta berdialog dengan Dirjen Kebudayaan &#8211; Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI (Hilmar Farid, Ph.D.) secara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">online<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Dialog diawali dengan pemaparan dari Noer Fauzi Rachman, menekankan tentang pentingnya mengenalkan kelompok muda dengan budaya desa yang ada di dalam diri setiap peserta. Hal penting yang didapat melalui dialog adalah perlunya mengembangkan pangan lokal untuk mencapai ketahanan dan kedaulatan pangan. Tantangannya adalah dalam menghadapi pemerintah (terkait kebijakan dan perizinan) serta korposari (investasi yang merusak lingkungan) sebagai pemegang kekuasaan. Hal tersebut dapat direspon dengan cara mengurangi produksi yang berlebihan, melakukan penghematan dan bijak konsumsi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kegiatan terakhir hari ini adalah malam solidaritas, penampilan peserta dari Filipina. Peserta dari Filipina mempresentasikan gerakan yang dilakukan dan isu-isu yang terjadi kepada masyarakat adat, seperti banyak pemimpin masyarakat adat dan ketua suku yang dikriminalisasi oleh pemerintah. Selain itu, banyak penangkapan yang dilakukan kepada aktivis karena dianggap sebagai teroris. Selanjutnya pemutaran dokumenter komunitas di Palawan dan penampilan tarian dari masing-masing suku di Filipina, seperti dari suku Bukidnon, Tagbanwa, Manobo, Talaandig, dan Teduray. Peserta kemudian diajak ikut menari Idana, dan ditutup dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">games<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Melipat Tikar.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-13374\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/EWV00667-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"460\" height=\"311\" \/><\/p>\n<p><b>Selasa, 22 Agustus 2023 \u2013 Bincang Santai<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konsep <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nyegara gunung<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah kegiatan ritual yang dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali dari laut hingga gunung. Konsep tersebut juga dipraktikkan oleh masyarakat Adat Dalem Tamblingan, salah satunya melalui ritual <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lilitan Karya<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Ritual ditujukan untuk harmonisasi dengan alam. Bincang santai dilakukan bersama perwakilan masyarakat ADT:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Putu Ardana: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">segara gunung<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> merupakan konsep holistik dan terintegrasi, berbeda dengan konsep yang dibuat oleh negara. Konsep ini termasuk melindungi, apa yang dilakukan di gunung akan mempengaruhi hal yang di laut, begitu pun sebaliknya. Tidak hanya perlindungan atas fisik alamnya, tapi juga masalah sosial, sehingga tidak ada yang bisa dipisah-pisahkan.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kadek Sugihartono: konsep <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">segara gunung<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sangat sesuai dengan isu besar terkait perubahan iklim. Di tengah paradigma yang cenderung eksploitatif dan hedonis, pikiran dan semangat kita harus berkonsentrasi melindungi dunia dengan cara masing-masing, di Bali dengan konsep <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">nyegara gunung<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini, walaupun sudah ada degradasi dalam penerapan dan pemaknaannya.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kegiatan dilanjutkan dengan Sesi Berbagi difasilitasi oleh Kahayag Gabrielle Royo-Fay, ditujukan untuk membangun ruang agar anak muda bisa merealisasikan idenya, terutama dalam memproteksi pangan dan membangun sistem pendidikan yang lebih baik. Peserta dibagi menjadi enam kelompok yang terdiri dari berbagai daerah\/negara. Setiap kelompok mengirim satu perwakilan untuk menceritakan isu-isu yang dibagikan di kelompoknya:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tantangan terbesar diri anak muda: tidak percaya diri dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">overthinking<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, sulit beradaptasi, terlalu banyak pertimbangan<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tantangan terbesar masyarakat: alih fungsi lahan dan perampasan lahan, investasi besar perusak lingkungan, anak muda tidak tertarik budaya, partisipasi masyarakat, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">profit oriented<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, mementingkan hasil daripada proses<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Keterampilan dan dukungan yang diperlukan: kampanye, dukungan pemerintah pada masyarakat adat, belajar dan berdialog dengan orang tua, inovasi pengelolaan wilayah.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malam Solidaritas Kedua diisi oleh kelompok Mekong (Laos, Thailand, Kamboja, Myanmar, Vietnam):<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Games:<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">whispering<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (berbisik) dan tebak negara di kawasan Mekong berdasarkan bendera<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Presentasi tentang lembaga CIYA (Kamboja), proses pembuatan tenun (Myanmar), kehidupan komunitas dan pusat herbal (Vietnam)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pentas seni: Laos, Thailand, suling Vietnam<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Belajar menyanyikan lagu berbahasa Khmer<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: center;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-13375\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/EWV00505-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"468\" height=\"315\" \/><\/p>\n<p><b>Rabu, 23 Agustus 2023 \u2013 Treking dan Praktik Budaya<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peserta dibagi dalam empat kelompok, setiap kelompok terdiri dari 20 &#8211; 30 orang. Untuk menuju lokasi treking, peserta menggunakan mobil <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">pick-up<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan perjalanan ditempuh dalam waktu 20 &#8211; 30 menit.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Gobleg: berjalan sekitar 1 km dan mengelilingi kebun kopi, jeruk, sayur, dan bunga. Selanjutnya peserta mengunjungi Danau Tamblingan<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Munduk: menempuh jarak sekitar 2 km berjalan menurun di dalam hutan, dilanjutkan dengan menyeberangi danau menggunakan pedau sejauh sekitar 1,5 km dalam waktu sekitar 30 menit.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Gesing: berjalan menyusuri sawah dan perkebunan cengkeh bertopografi landai hingga curam sepanjang sekitar 3 km. Peserta selama sekitar 30 menit menghabiskan waktu di sungai untuk beristirahat dan berenang.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Umejero: jarak yang ditempuh cukup singkat, yaitu 1,5 km namun dengan topografi landai, curam, hingga terjal. Selain melihat keanekaragaman sumber pangan, peserta juga bisa menikmati air terjun dan berenang di sungai sekitarnya.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepulang dari treking, peserta dapat melihat dan mempelajari praktik budaya masyarakat ADT. Ada lima praktik budaya yang bisa dipilih oleh peserta, yaitu:\u00a0<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mejejaitan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">: yaitu membuat sarana banten untuk persembahyangan. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Canang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">tipat<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> merupakan sarana dasar persembahyangan, dibuat dari janur dan aneka jenis bunga.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menari: tari merupakan salah satu cara melakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">bakti<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kepada dewa, leluhur, dan semesta, terutama tari sakral yang dipersembahkan di pura. Ada juga jenis tari yang ditujukan untuk penyambutan tamu atau sekedar hiburan.\u00a0\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tabuh gamelan: sama seperti tari, tabuh gamelan juga dipersembahkan di pura, sekaligus juga bisa difungsikan untuk hiburan atau mengisi waktu luang.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bermain gangsing: merupakan salah satu permainan tradisional yang dimainkan oleh anak-anak dan orang dewasa. Gangsing dibuat dari kayu dilengkapi dengan tali untuk alat pelemparnya agar berputar.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Memasak: terutama masakan yang menggunakan bahan-bahan lokal dan teknik tradisional, juga dengan alat-alat tradisional yang biasa digunakan di rumah. Masakan yang dibuat di antaranya sate, pepes, dan lawar ayam.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malam Solidaritas Ketiga diisi oleh kelompok Indonesia (Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua). Indonesia menampilkan pentas seni dari Maluku (tari Hena Masa Waya), Kalimantan (tari Burung Enggang), Papua (tari Utu-utu Kalayo dari Suku Moi). Selanjutnya menari bersama, yaitu Poco-poco dari Maluku, Sajojo dari Papua, dan Ja\u2019I dari Ngada, Nusa Tenggara.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-13376\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/DSC_1560-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"442\" height=\"310\" \/><\/p>\n<p><b>Kamis, 24 Agustus 2023 \u2013 Agenda Masa Depan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kegiatan diawali dengan presentasi Treking Desa oleh setiap kelompok. Kemudian peserta setiap negara diminta untuk menuliskan dan menggambarkan pernyataan untuk perbaikan isu lingkungan di tempat masing-masing:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Filipina: \u201cdengarkan masyarakat adat dan lakukan sebuah aksi untuk iklim kita.\u201d Alasannya karena banyak sekali perjanjian perubahan iklim, namun dalam kenyataannya tidak ada yang diimplementasikan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mekong: \u201ctidak ada pemuda, tidak ada alam, maka tidak ada masa depan.\u201d Pemuda harus melakukan aksi dalam gerakan lingkungan agar alam bisa terjaga dan berkelanjutan.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesia: \u201cbergerak dan berdampak.\u201d Bergerak artinya melakukan suatu tindakan nyata terhadap isu-isu di lingkungan. Perubahan tidak akan datang jika tidak ada gerakan. Pemuda memiliki tujuan yang sama, yaitu memberikan dampak nyata ke lingkungan.\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Satu tema yang sama adalah \u201cmengambil tindakan dan mau bergerak\u201d Hal yang dirisaukan oleh pemuda adalah kurangnya kepercayaan diri. Pemuda belum bisa melakukan aksi lebih, padahal sebenarnya bisa. Komitmen untuk saling menguatkan adalah mencoba membaur dengan seni dan membangun <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">team building <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">melalui permainan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malam Solidaritas Keempat atau terakhir diisi oleh kelompok Bali (Buleleng, Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan, Karangasem, Klungkung, Jembrana). Tim Bali memperkenalkan permainan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mekacang ori\/goak-goakan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, terdiri dari dua kelompok yang saling berupaya menangkap ekor kelompok lawannya. Kemudian menampilkan tari Kecak yang menceritakan kisah Ramayana dan Joged Bungbung yang merupakan tari pergaulan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malam terakhir ditutup dengan kesan peserta terhadap kegiatan yang telah berlangsung selama lima hari. Sebagian besar peserta menyampaikan ucapan terima kasih kepada masyarakat Adat Dalem Tamblingan dan alamnya yang sudah menerima mereka dengan hangat, sehingga bisa mengikuti kegiatan Jambore ini dengan nyaman. Peserta merasa bersyukur mengikuti kegiatan ini dan bisa mendapatkan pelajaran yang berharga, seperti konsep Tri Hita Karana dan Nyegara Gunung, juga bisa mempelajari budaya lokal. Jambore Nusantara ini menjadi ruang dalam menumbuhkan motivasi pemuda adat untuk terus berjuang dan mengingatkan pemuda adat bahwa mereka tidak bergerak sendiri, melainkan bisa berkolaborasi serta bergerak bersama dalam menjaga alam dan menghadapi isu-isu lingkungan.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>The Samdhana Institute, sebuah lembaga yang dibentuk pada tahun 2003 oleh sekelompok konservasionis serta para aktivis pembela HAM dan ahli pembangunan, tahun ini merayakan 20 tahun kehadirannya sebagai bagian dari gerakan sosial dan lingkungan di Asia Tenggara. Berdasarkan hal tersebut, Samdhana bekerjasama dengan BRASTI dan Yayasan Wisnu menyelenggarakan pertemuan ketiga dari Para Pemimpin Muda se-Nusantara&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13371,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_mi_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[3,5],"tags":[],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"2.12.2","language":"id","enabled_languages":["en","id"],"languages":{"en":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"id":{"title":true,"content":true,"excerpt":false}}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13370"}],"collection":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13370"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13370\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13378,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13370\/revisions\/13378"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13371"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13370"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13370"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13370"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}