{"id":13382,"date":"2023-11-12T12:01:01","date_gmt":"2023-11-12T04:01:01","guid":{"rendered":"https:\/\/wisnu.or.id\/?p=13382"},"modified":"2023-11-12T12:04:23","modified_gmt":"2023-11-12T04:04:23","slug":"wisnu-enters-campus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/2023\/11\/12\/wisnu-enters-campus\/","title":{"rendered":"Wisnu Masuk Kampus"},"content":{"rendered":"<style type=\"text\/css\"><\/style><p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari Selasa, tanggal 12 September 2023, Wisnu diundang ke Kampus Antropologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM untuk memberi pembekalan kepada sekitar 40 mahasiswa. Kerja sama dilakukan dalam rangka Pengembangan Tridharma Perguruan Tinggi dan Program Pengembangan MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka), untuk meningkatkan kelancaran dan optimalisasi peran akademisi dalam rangka manajemen pendidikan tinggi yang efektif dan efisien, serta mengembangkan jaringan kerjasama dengan industri dan kemitraan yang berkelanjutan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nantinya akan ada empat atau lima mahasiswa yang akan magang di Wisnu untuk menyusun rencana pengembangan agrowisata di Desa Pandansari, Brebes. Hal ini merupakan bagian dari mata kuliah Praktikum Etnografi bertema Etnografi Digital Partisipatoris tentang dan untuk Pengelolaan Lingkungan, Ekowisata, dan Perubahan Iklim. Topik perkuliahan yang terkait dengan tema tersebut di antaranya riset partisipatoris, pemberdayaan masyarakat, dan pengelolaan wisata alam berkelanjutan. Terkait dengan hal tersebut, ada dua materi yang disampaikan kepada mahasiswa Antropologi, yaitu pemahaman atas atas ruang desa dan cara mengelola ruang desa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Mengenal Ruang Desa<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ruang desa, seperti ruang kehidupan pada umumnya terdiri dari beberapa komponen, yaitu ruang itu sendiri, sistem keyakinan dan cara hidup masyarakatnya, serta kesepakatan yang dibangun. Ruang, seperti halnya tubuh, terbantuk dari lima elemen dasar (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">panca mahabhuta<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), yaitu air\/cair (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">apah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), api\/cahaya (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">teja<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), angin\/udara (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">bayu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), tanah\/bumi\/padat (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">perthivi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), ether\/ruang kosong (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">akasa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Selain membentuk ruang kehidupan, elemen-elemen dasar ini juga menimbulkan bahaya\/risiko atau bencana (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">panca baya<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), seperti banjir, gunung meletus, puting beliung, gempa bumi, dan penyakit atau hama.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, sistem keyakinan tercipta atau diciptakan oleh masyarakat yang tinggal di dalamnya untuk mengelola ruang hidupnya. Bagi masyarakat Bali, sistem keyakinan yang dibangun meliputi keyakinan pada Tuhan Yang Mahaesa (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">brahman<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), jiwa\/roh (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">atman<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), hasil perbuatan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">karmapala<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), reinkarnasi (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">samsara<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), dan bersatunya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">atman<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">brahman<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">moksa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Sistem keyakinan tersebut dikenal dengan istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">panca sradha<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sistem keyakinan tersebut menciptakan cara hidup yang menyatu dan menjaga keseimbangan\/ keharmonisan antara alam, manusia, dan kebudayaan secara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sekala<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">niskala<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Keseimbangan dan keharmonisan dijaga melalui pemuliaan atas hutan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">wana kertih<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), sumber air (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">danu kertih<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), samudra (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">segara kertih<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), individu (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">janu kertih<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), semua makhluk (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">jagat kertih<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), dan jiwa (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">atma kertih<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Cara hidup lainnya adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">desa mawa cara<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, bahwa desa memiliki budaya (cara hidup dan adat istiadat) sendiri, juga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">desa kala patra<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, bahwa budaya dilaksanakan berdasarkan tempat, waktu, dan situasi saat itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesepakatan pada akhirnya dibuat sebagai cara untuk menciptakan keharmonisan, untuk menciptakan ketertiban, ketentraman, dan kedamaian di antara yang bersepakat. Kesepakatan yang penting untuk dibuat adalah batas wilayah (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">wewidangan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), aturan tertulis dan tidak tertulis (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">awig<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">perarem<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), serta tradisi dan ritual. Hal-hal inilah yang menjadikan masyarakat Bali dikenal sebagai manusia ritus berdasar tradisi agraris, menyebabkan alamnya terjaga dan seimbang, sibuk dengan diri dan kehidupannya, dan menjadikan orang luar sebagai penikmat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka kemudian, semakin banyak orang luar yang menikmati Bali, semakin membuat masyarakat Bali terlena, terutama oleh candu pariwisata. Ekonomi memang meningkat, namun untuk siapa? Kehidupan sosial semakin luas dengan pengaruh positif dan negatifnya, budaya Bali semakin terkenal dan juga permisif. Selain itu, alih fungsi dan kepemilikan lahan semakin tinggi, juga terjadi krisis air, serta peningkatan jumlah sampah dan limbah. Keseimbangan tidak lagi terjaga. Lalu harus bagaimana?\u00a0\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Mengelola Ruang Desa<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yayasan Wisnu melakukan tiga tahap laku untuk menjaga keseimbangan yang masih ada, yaitu dengan cara mengidentifikasi sumber daya dan masalah melalui riset dan pemetaan, melakukan pemberdayaan dan pengembangan usaha komunitas melalui pengelolaan sumber daya komunitas, serta menyusun dokumentasi dalam bentuk buku, video, dan media lainnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terkait dengan topik perkuliahan, yaitu riset partisipatoris, pemberdayaan masyarakat, dan pengelolaan wisata alam berkelanjutan, maka tahap laku ditekankan pada riset dan pemetaan. Kegiatan ditujukan untuk mengetahui dan memahami sumber daya yang dimiliki, meliputi sumber daya alam, manusia, sosial budaya, infrastruktur, dan finansial. Kali ini untuk lebih memahami teknik tersebut, kami mengajak mahasiswa praktik di seputaran kampus FIB.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-13384\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/IMG_20230912_145124-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"576\" height=\"333\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peserta dibagi menjadi empat kelompok:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kelompok Sketsa: menggambarkan sketsa denah kampus FIB dengan titik-titik penting di dalamnya, di antaranya adalah perpustakaan, taman kucing, dan kolam lele.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kelompok Sosbud: mencari informasi terkait sejarah keberadaan FIB, jumlah dosen dan mahasiswa, juga kisah-kisah yang terkait dengan hal-hal tak kasat mata.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kelompok GPS: mengambil titik-titik koordinat batas gedung FIB menggunakan GPS Garmin.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kelompok AlpineQuest: sama dengan GPS, namun menggunakan aplikasi bernama AlpineQuest.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga bermanfaat ya untuk teman-teman Antropologi. Semangaaaat ..<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hari Selasa, tanggal 12 September 2023, Wisnu diundang ke Kampus Antropologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM untuk memberi pembekalan kepada sekitar 40 mahasiswa. Kerja sama dilakukan dalam rangka Pengembangan Tridharma Perguruan Tinggi dan Program Pengembangan MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka), untuk meningkatkan kelancaran dan optimalisasi peran akademisi dalam rangka manajemen pendidikan tinggi yang efektif dan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13383,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_mi_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"2.12.2","language":"id","enabled_languages":["en","id"],"languages":{"en":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"id":{"title":true,"content":true,"excerpt":false}}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13382"}],"collection":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13382"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13382\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13386,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13382\/revisions\/13386"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13383"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13382"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13382"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13382"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}