{"id":13416,"date":"2023-11-28T15:13:04","date_gmt":"2023-11-28T07:13:04","guid":{"rendered":"https:\/\/wisnu.or.id\/?p=13416"},"modified":"2023-11-28T15:32:53","modified_gmt":"2023-11-28T07:32:53","slug":"sharing-ecologic-nusa-penida-initiative-in-gef-sgp-phase-7","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/2023\/11\/28\/sharing-ecologic-nusa-penida-initiative-in-gef-sgp-phase-7\/","title":{"rendered":"Ecologic Nusa Penida Berbagi di GEF-SGP Fase 7"},"content":{"rendered":"<style type=\"text\/css\"><\/style><p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak tahun 2018 hingga 2021, Yayasan Wisnu bersama sepuluh lembaga lokal di Bali atas dukungan GEF SGP Indonesia melakukan Program Peningkatan Ketahanan Sosial Budaya Ekologis dalam Menghadapi Desakan Globalisasi di Pulau Kecil. Program yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ecologic Nusa Penida ini merupakan bagian dari program GEF SGP Indonesia Fase 6. Selain Nusa Penida, bentang alam lain menjadi sasaran kerja adalah Pulau Semau, Wakatobi, dan Gorontalo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada Fase 7-nya kali ini, GEF SGP Indonesia berproses di empat bentang alam. Sasaran utama GEF SGP-7 adalah meningkatnya ketahanan sosial-ekologis lewat inisiatif berbasis komunitas di empat bentang alam terpilih, baik dari segi bentang darat (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">landscape<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) maupun bentang laut (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">seascape<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Keempat bentang alam terpilih adalah Daerah Aliran Sungai Bodri &#8211; Jawa Tengah, Daerah Aliran Sungai Balantieng &#8211; Sulawesi Selatan, Suaka Margasatwa Nantu dan wilayah Taman Hutan Raya Gorontalo &#8211; Gorontalo, dan Pulau Sabu Raijua &#8211; Nusa Tenggara Timur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk dapat meninjau dan mengukur pelaksanaan kegiatan di tingkat bentang alam apakah sudah sesuai dengan dokumen strategis, rencana aksi berbasis gender, penerapan Padiatapa, dan capaian prodoc, maka sekretariat GEF SGP Indonesia melihat pentingnya melakukan pertemuan kembali bersama dengan tim strategi dan lembaga-lembaga payung terpilih. Selain itu, pertemuan ini juga bermaksud untuk menyusun bersama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">visioning <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan langkah-langkah strategis setiap bentang alam dalam pelaksanaan GEF SGP Fase 7 agar manfaatnya dapat dirasakan di tingkat lokal dan berkontribusi pada capaian global.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanggal 14 \u2013 16 November 2023, bertempat di Risata Resort Kuta, Yayasan Wisnu bergabung dalam pertemuan tersebut untuk berbagi pengalaman menjadi Lembaga Payung (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Host<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) dalam pelaksanaan program Ecologis Nusa Penida. Denik Puriati dan Gede Sughiarta sebagai narasumber mengatakan bahwa ada banyak hal penting yang dilakukan dan diperhatikan Wisnu sebagai host. Beberapa di antaranya adalah melakukan konsolidasi dan komunikasi dengan Sekretariat GEF SGP Indonesia dan pemerintah daerah, menghindari eklusivitas dan memediasi konflik di lapangan, serta merancang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">exit strategy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ketika program berakhir agar gerakan dapat terus berlanjut.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-13420\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/LTP_4796-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"447\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bekerja sama dengan JED &#8211; Jaringan Ekowisata Desa (<\/span><a href=\"http:\/\/www.jed.or.id\"><span style=\"font-weight: 400;\">www.jed.or.id<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">) dan membangun Rumah Belajar Bukit Keker (<\/span><a href=\"http:\/\/www.ekologisnusapenida.net\"><span style=\"font-weight: 400;\">www.ekologisnusapenida.net<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">) di Banjar Nyuh merupakan langkah yang diambil sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">exit strategy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Keduanya diharapkan dapat menjadi media keberlanjutan gerakan bersama dalam mencapai visi\/misi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ecologic<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Nusa Penida, menjadikan masyarakat di kawasan pulau kecil ini memiliki ketahanan sosial budaya dan ekologis yang tinggi dalam menghadapi desakan globalisasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya keempat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Host<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Fase 7 memaparkan isu-isu strategis yang dihadapi masing-masing. Secara umum, keempatnya menghadapi isu yang hampir sama, yaitu berkurangnya tutupan lahan hutan akibat tambang atau pertanian monokultur, tidak adanya kemandirian pangan, dan pengelolaan sumber daya alam berbasis aturan adat belum dilakukan secara optimal. Beberapa kegiatan telah dilakukan untuk merespon isu strategis tersebut, dan hingga saat ini masih berjalan, sehingga belum banyak capaian-capaian yang bisa diukur keberhasilannya dan diceritakan. Setidaknya sudah ada lahan yang dipulihkan serta masyarakat dan desa penerima program bertambah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Visioning setiap bentang alam disusun dan didiskusikan pada hari kedua, yaitu:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengembalikan fungsi DAS Balantieng sebagai lumbung pangan Sulawesi Selatan<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Suaka Margasatwa Natuna \u2013 Tahura (Taman Hutan Rakyat) Gorontalo sebagai penyedia air<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pulau Sabu dan Raijua tangguh dalam menghadapi perubahan iklim<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kegiatan-kegiatan yang dilakukan di DAS Bodri menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Indonesia<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka, untuk dapat mewujudkan visi tersebut, setiap <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Host<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> harus menyusun Tabel Rencana Strategis, Risiko, dan Mitigasi Risiko. Setiap <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Host<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memberikan masukan kepada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Host<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang lain, bersama dengan Sekretariat GEF SGP Indonesia, Tim Strategis, dan Narasumber. Tabel inilah yang akan digunakan oleh para Host sebagai acuan melaksanakan program ke depan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara umum pertemuan Visioning Lembaga Payung GEF SGP Indonesia Fase 7 berjalan sesuai dengan rencana, di mana tujuan dan luaran yang diharapkan sudah tercapai. Tim Penyelenggara melihat bahwa alur menarik dan berjalan lancar dengan sedikit keterlambatan, materi mampu membuka wawasan dan sudah sesuai dengan yang diharapkan, juga peserta mengikuti dengan serius serta terlibat aktif dan saling berbagi. Semua peserta menyatakan bahwa pertemuan ini bermanfaat, dengan nilai 9\/10 dari 1-10. Berdasarkan masukan dari peserta, ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan, di antaranya memperpanjang waktu pertemuan dan melakukan kegiatan di luar ruangan.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejak tahun 2018 hingga 2021, Yayasan Wisnu bersama sepuluh lembaga lokal di Bali atas dukungan GEF SGP Indonesia melakukan Program Peningkatan Ketahanan Sosial Budaya Ekologis dalam Menghadapi Desakan Globalisasi di Pulau Kecil. Program yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ecologic Nusa Penida ini merupakan bagian dari program GEF SGP Indonesia Fase 6. Selain Nusa Penida,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13419,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_mi_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[51,2,3,4,5],"tags":[],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"2.12.2","language":"id","enabled_languages":["en","id"],"languages":{"en":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"id":{"title":true,"content":true,"excerpt":false}}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13416"}],"collection":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13416"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13416\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13430,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13416\/revisions\/13430"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13419"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13416"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13416"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13416"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}