{"id":13515,"date":"2024-03-07T11:34:40","date_gmt":"2024-03-07T03:34:40","guid":{"rendered":"https:\/\/wisnu.or.id\/?p=13515"},"modified":"2024-03-07T11:34:40","modified_gmt":"2024-03-07T03:34:40","slug":"enhanced-culinary-delights-in-kiadan-pelaga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/2024\/03\/07\/enhanced-culinary-delights-in-kiadan-pelaga\/","title":{"rendered":"Kuliner Kiadan Pelaga"},"content":{"rendered":"<style type=\"text\/css\"><\/style><p><span style=\"font-weight: 400;\">Kiadan adalah sebuah banjar adat, sekaligus desa adat, terletak di Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali.\u00a0 Leluhur masyarakat Kiadan berasal dari Desa Awan, Bangli.\u00a0 Ketika terjadi peperangan dan mengalami kekalahan, ada dua belas orang yang melarikan diri ke daerah Kiadan.\u00a0 Namun kemudian keberadaan mereka diketahui oleh musuh, sehingga harus melarikan diri lagi, kali ini ke Desa Asah di Tabanan.\u00a0 Sebelum melarikan diri, mereka meninggalkan barang-barang berharga di Kiadan dengan cara ditanam ke dalam tanah.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika tinggal di Desa Asah, kedua belas orang tersebut sangat disayang oleh Anak Agung dari Marga, sehingga menyebabkan kecemburuan dan iri hati, hingga fitnah, hingga akhirnya mereka dimasukkan ke dalam penjara kerajaan.\u00a0 Pada suatu malam, tiba-tiba muncul burung Titiran dan tiba-tiba juga semua borgol dan pintu penjara terbuka. Kesempatan itu dipergunakan untuk melarikan diri dari penjara ke dalam hutan.\u00a0 Pelarian diketahui oleh pihak kerajaan, dan ketika dalam pengejaran mereka sempat menemui jalan buntu karena menemui sungai yang dalam.\u00a0 Tiba-tiba di atas sungai muncul jejeran kayu yang dapat digunakan untuk menyeberang.\u00a0 Setelah kedua belasnya berhasil menyeberangi sungai, jejeran kayu berubah menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">be Julit<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, hingga lolos dari kejaran pihak kerajaan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka kemudian memutuskan untuk menghadap Raja Carang Sari, memohon wilayah tempat tinggal.\u00a0 Raja memberikan kebebasan untuk memilih tempat tinggal. Keduabelasnya sepakat untuk kembali ke Kiadan, tempat mereka meninggalkan barang-barang berharga. Raja meluluskan permintaan tersebut, dengan batas wilayah berupa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">pangkung<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (sungai) di sebelah timur dan barat wilayah. Mereka kemudian menerima kedatangan orang lain yang ingin tinggal dan menetap di Kiadan.\u00a0 Lahan di wilayah Kiadan adalah hak milik masing-masing kepala keluarga, tergantung dari kerajinan dan kesanggupannya membuka hutan, tetapi tidak sampai ke tanah di atas jurang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wilayah Kiadan memiliki sejumlah vegetasi alam yang berupa pohon, semak atau perdu, dan tanaman yang ada di wilayah pertanian atau perkebunan. Jenis tanaman pangan yang ditanam sebagian kecil untuk kebutuhan keluarga dan selebihnya untuk dijual.\u00a0 Adapun tanaman pangan yang ditanam adalah padi, jagung, ketela pohon, dan sayur mayur seperti kacang panjang, sawi hijau, sawi putih, tomat, lombok, bawang, dan sayuran yang tumbuh dengan sendirinya. Sementara itu, ada juga jenis tanaman pangan yang tumbuh liar, yaitu daun saba yang tampilannya mirip dengan daun sirih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hari Senin, tanggal 19 Februari 2024, Yayasan Wisnu bersama 10 orang generasi muda dan ibu-ibu Kiadan Pelaga, bekerja sama dengan tim Ezzyclass.id dari Elizabeth International melaksanakan Pelatihan Pengolahan dan Penyajian Kuliner Lokal. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan anggota Kelompok Ekowisata Kiadan Pelaga dalam melaksanakan ekowisata di desanya. Pelaksanaan kegiatan ini didukung oleh PT Langgeng Kreasi Jayaprima (Diageo Indonesia) sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-13518\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG_1967-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"603\" height=\"402\" srcset=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG_1967-300x200.jpg 300w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG_1967-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG_1967-768x512.jpg 768w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG_1967-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG_1967-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG_1967-580x387.jpg 580w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG_1967-860x573.jpg 860w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG_1967-1160x773.jpg 1160w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG_1967-1440x960.jpg 1440w\" sizes=\"(max-width: 603px) 100vw, 603px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kegiatan dipandu oleh Chef Agung dan Mr. Yuda, mulai dari menyiapkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">breakfast<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">main course<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">dessert<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang dibuat dari kekayaan Kiadan.\u00a0<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">American<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">breakfast<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">: telur (2 buah), roti, tomat dipanggang, kentang (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">wedges<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, goreng setengah matang-angkat-goreng kembali supaya garing di luar dan lembut di dalam). Telur bisa dibuat dalam bentuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sunny side up<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (mata sapi, tidak dibalik), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">turn over<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (mata sapi dibalik), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">scramble<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (bisa ditambah susu supaya telurnya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">soft<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ommelete<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">plain<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan dengan isian bawang pre).\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Main course<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (nasi campur Kiadan): sate empol, ayam goreng, perkedel, gado-gado (taoge, pakis, daun labu siam) menggunakan sambal kacang\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dessert<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">: es buah (susun warna agar menarik), jepang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">compote<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, ketan injin<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kiadan herbal tea<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">: air 500 ml, gula 150 gr, jahe, sere, star anis (2 buah), cinnamon, cengkeh, dan daun saba (2-3 lembar)<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-13519\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG_2074-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"200\" srcset=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG_2074-300x200.jpg 300w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG_2074-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG_2074-768x512.jpg 768w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG_2074-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG_2074-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG_2074-580x387.jpg 580w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG_2074-860x573.jpg 860w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG_2074-1160x773.jpg 1160w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/IMG_2074-1440x960.jpg 1440w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Catatan:\u00a0<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Straw<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bisa dibuat dari batang daun pepaya: potong seukuran straw, rendam garam, jemur<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Cara merebus sayuran: tambahkan air dengan sedikit garam (agar cepat mendidih), taoge direbus lebih dulu baru kemudian sayuran yang lain agar warna air tetap bening, masukkan sayuran dalam air dingin setelah direbus (agar warna tetap segar)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Minuman sudah disuguhkan sebelum tamu datang, gelas diletakkan terbalik di atas koster.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengambil piring setelah makan dari sisi kiri tamu<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Membuat minuman dimulai dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">simple syrup<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (rebus gula dalam air)<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara menghidangkan:\u00a0<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Perhatikan hal-hal yang berbahaya: memegang pisau, menggunakan kompor<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Gunakan hairnet untuk perempuan dan topi untuk laki-laki agar rambut tidak jatuh<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Perhatikan posisi tamu sebelum menyuguhkan makanan, diberikan dari sisi kanan tamu.\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kekayaan Kiadan Pelaga bukan hanya kopi, melainkan juga aneka jenis rempah yang bisa diolah menjadi minuman untuk menghangatkan tubuh. Sangat cocok dihidangkan dan dinikmati di daerah berketinggian 1000 meter di atas permukaan laut.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kiadan adalah sebuah banjar adat, sekaligus desa adat, terletak di Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Bali.\u00a0 Leluhur masyarakat Kiadan berasal dari Desa Awan, Bangli.\u00a0 Ketika terjadi peperangan dan mengalami kekalahan, ada dua belas orang yang melarikan diri ke daerah Kiadan.\u00a0 Namun kemudian keberadaan mereka diketahui oleh musuh, sehingga harus melarikan diri lagi, kali ini&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13517,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_mi_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[57,5],"tags":[62,68,69,67],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"2.12.2","language":"id","enabled_languages":["en","id"],"languages":{"en":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"id":{"title":true,"content":true,"excerpt":false}}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13515"}],"collection":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13515"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13515\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13520,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13515\/revisions\/13520"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13517"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13515"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13515"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13515"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}