{"id":13535,"date":"2024-05-29T21:50:31","date_gmt":"2024-05-29T13:50:31","guid":{"rendered":"https:\/\/wisnu.or.id\/?p=13535"},"modified":"2024-05-29T21:52:51","modified_gmt":"2024-05-29T13:52:51","slug":"menjaga-kesehatan-kulit-dan-alam-menuju-kawasan-rendah-emisi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/2024\/05\/29\/menjaga-kesehatan-kulit-dan-alam-menuju-kawasan-rendah-emisi\/","title":{"rendered":"Menjaga Kesehatan Kulit dan Alam, Menuju Kawasan Rendah Emisi"},"content":{"rendered":"<style type=\"text\/css\"><\/style><p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada tahun 2018 \u2013 2020, Yayasan Wisnu melaksanakan program <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Optimalisasi Potensi Desa dalam Menjaga Lingkungan dan Mengembangkan Usaha Alternatif melalui Produk Sabun Natural<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, bekerja sama dengan PUPUK Bandung dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Local Entrepreneurship Development Program<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (LEDPro). Sabun Natural DWE (Tokopedia: DWE Natural) merupakan produk yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan tersebut, dikembangkan sebagai unit usaha Yayasan Wisnu dalam upaya menuju kemandirian lembaga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">DWE Natural mengajak masyarakat untuk merawat diri dan bumi. Bahan utama sabun natural DWE adalah minyak kelapa, dipadukan dengan aneka jenis daun, bunga, buah, dan rempah, tanpa pengawet dan pewarna sintetik. Pilihan atas digunakannya bahan-bahan alami ditujukan untuk menjaga kesehatan, baik kesehatan kulit maupun kesehatan alam\/lingkungan \u2013 terutama air dan tanah. Selain itu, untuk mengurangi sampah kemasan, sabun natural DWE dikemas dengan kertas bekas yang telah diolah menjadi kertas daur ulang.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-13537\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/IMG_0270-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"612\" height=\"345\" srcset=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/IMG_0270-300x169.jpg 300w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/IMG_0270-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/IMG_0270-768x432.jpg 768w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/IMG_0270-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/IMG_0270-2048x1152.jpg 2048w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/IMG_0270-580x326.jpg 580w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/IMG_0270-860x484.jpg 860w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/IMG_0270-1160x653.jpg 1160w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/IMG_0270-1440x810.jpg 1440w\" sizes=\"(max-width: 612px) 100vw, 612px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada bulan Maret \u2013 Mei 2024, dengan dukungan dari Diageo Indonesia, Wisnu memperkenalkan sabun natural DWE dan cara membuatnya kepada ibu-ibu PKK di Sanur dan Legian.\u00a0<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kelurahan Sanur, tanggal 27 Maret 2024, diikuti oleh 41 orang<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Banjar Tanjung di Desa Sanur Kauh, tanggal 5 April 2024, diikuti oleh 47 orang<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Banjar Langon di Desa Sanur Kaja, tanggal 7 April 2024, diikuti oleh 44 orang<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kelurahan Legian, tanggal 9 Mei 2024, diikuti oleh 32 orang<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat berlatih membuat sabun, peserta dibagi menjadi 4-5 kelompok yang terdiri dari 8-10 orang. Setiap kelompok membuat varian yang berbeda. Varian sabun yang dibuat adalah sabun kayu manis, sabun kopi \u2013 madu, sabun pala, sabun bangle, juga sabun pepaya dan sabun bengkoang. Sabun natural DWE sendiri memproduksi 18 varian sabun, di antaranya cengkeh \u2013 jeruk, beras \u2013 kenanga, pepaya \u2013 wortel, dan kopi \u2013 madu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bersamaan dengan Pelatihan Pembuatan Sabun Natural, dilakukan juga pengumpulan data kuantitatif Studi Dampak Sosial di Kawasan Rendah Emisi (KRE). Pengumpulan data kuantitatif merupakan kelanjutan dari pengumpulan data kualitatif yang telah dilakukan sebelumnya. Studi KRE dilaksanakan di Kelurahan Kuta dan Kelurahan Legian \u2013 Badung, Kelurahan Sanur, Desa Sanur Kaja, dan Desa Sanur Kauh \u2013 Denpasar, Desa Ubud \u2013 Gianyar, dan Kecamatan Nusa Penida \u2013 Klungkung, pada Agustus 2023 \u2013 April 2024 bekerja sama dengan WRI.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Studi ditujukan untuk mengetahui dampak sosial yang ditimbulkan dari penerapan zona rendah emisi dan menyusun rencana mitigasi yang relevan atas dampak tersebut, berdasarkan perubahan perilaku individu dan transformasi sosial komunitas. Hal tersebut merupakan bagian dari agenda pembangunan hijau melalui percepatan transisi energi bersih dan penerapan kendaraan listrik. Hasil studi akan digunakan untuk merancang rencana mitigasi melalui rancangan model kelembagaan dan strategi kampanye terkait kawasan rendah emisi, terutama dalam hal transportasi berkelanjutan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-13538\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/IMG_0849-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"614\" height=\"346\" srcset=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/IMG_0849-300x169.jpg 300w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/IMG_0849-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/IMG_0849-768x432.jpg 768w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/IMG_0849-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/IMG_0849-2048x1152.jpg 2048w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/IMG_0849-580x326.jpg 580w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/IMG_0849-860x484.jpg 860w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/IMG_0849-1160x653.jpg 1160w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/IMG_0849-1440x810.jpg 1440w\" sizes=\"(max-width: 614px) 100vw, 614px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pelatihan Pembuatan Sabun Natural dipilih sebagai satu bentuk nyata pembangunan hijau atau ramah lingkungan, yaitu partisipasi masyarakat dalam melakukan konservasi lingkungan dan pemanfaatan sumber daya berkelanjutan. Seperti telah disebutkan di atas, sabun natural dibuat dari bahan-bahan alami, sehingga aman bagi air dan tanah. Selain itu kemasan Sabun Natural DWE dibuat dari kertas daur ulang yang memanfaatkan limbah kertas dan mudah hancur.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terciptanya kawasan rendah emisi diindikasikan dengan rendahnya emisi dari alat transportasi pada satu kawasan. Maka berjalan kaki dan bersepeda merupakan pilihan utama, dan alat transportasi yang disarankan untuk digunakan adalah KBLBB (kendaraan bermotor listrik berbasis baterai) atau kendaraan umum. Namun, keberlangsungan kawasan rendah emisi juga sangat dipengaruhi oleh praktik pembangunan hijau (daya tanggap terhadap lingkungan, efisiensi sumber daya, serta kepekaan pada komunitas dan budaya), juga praktik pembangunan rendah karbon (penanganan limbah, pengelolaan laut dan pesisir, serta pengembangan industri hijau dan energi baru terbarukan. <\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada tahun 2018 \u2013 2020, Yayasan Wisnu melaksanakan program Optimalisasi Potensi Desa dalam Menjaga Lingkungan dan Mengembangkan Usaha Alternatif melalui Produk Sabun Natural, bekerja sama dengan PUPUK Bandung dalam Local Entrepreneurship Development Program (LEDPro). Sabun Natural DWE (Tokopedia: DWE Natural) merupakan produk yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan tersebut, dikembangkan sebagai unit usaha Yayasan Wisnu&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13539,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_mi_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[2,3,4,5],"tags":[],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"2.12.2","language":"id","enabled_languages":["en","id"],"languages":{"en":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"id":{"title":true,"content":true,"excerpt":false}}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13535"}],"collection":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13535"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13535\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13542,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13535\/revisions\/13542"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13539"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13535"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13535"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13535"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}