{"id":13582,"date":"2024-09-01T14:14:58","date_gmt":"2024-09-01T06:14:58","guid":{"rendered":"https:\/\/wisnu.or.id\/?p=13582"},"modified":"2024-09-01T14:22:38","modified_gmt":"2024-09-01T06:22:38","slug":"nusa-penida-sudah-menjadi-pusat-kehidupan-sejak-zaman-purba-atau-prasejarah-pada-masa-kebudayaan-batu-berdasarkan-riset-yang-dilakukan-di-gua-gede-desa-pejukutan-jejak-jejak-kehidupan-di","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/2024\/09\/01\/nusa-penida-sudah-menjadi-pusat-kehidupan-sejak-zaman-purba-atau-prasejarah-pada-masa-kebudayaan-batu-berdasarkan-riset-yang-dilakukan-di-gua-gede-desa-pejukutan-jejak-jejak-kehidupan-di\/","title":{"rendered":"Olah Saji Kuliner Nusa Penida"},"content":{"rendered":"<style type=\"text\/css\"><\/style><p><span style=\"font-weight: 400;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-13585\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/IMG_0617-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"699\" height=\"394\" srcset=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/IMG_0617-300x169.jpg 300w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/IMG_0617-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/IMG_0617-768x432.jpg 768w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/IMG_0617-1536x864.jpg 1536w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/IMG_0617-2048x1152.jpg 2048w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/IMG_0617-580x326.jpg 580w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/IMG_0617-860x484.jpg 860w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/IMG_0617-1160x653.jpg 1160w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/IMG_0617-1440x810.jpg 1440w\" sizes=\"(max-width: 699px) 100vw, 699px\" \/><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nusa Penida sudah menjadi pusat kehidupan sejak zaman purba atau prasejarah, pada masa kebudayaan batu. Berdasarkan riset yang dilakukan di Gua Gede \u2013 Desa Pejukutan, jejak-jejak kehidupan di Nusa Penida sudah ada sejak masa megalitik, neolitik, mesolitik, bahkan paleolitik. Hasil temuan tersebut menunjukkan bahwa sejak masa purba, Nusa Penida telah menjadi pulau mandiri pangan yang dihuni oleh masyarakat pemuja alam dan leluhur, serta berfungsi sebagai tempat persinggahan para migran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada masa neolitik, salah satu teknologi yang dibawa dan dikembangkan adalah teknologi pertanian. Terasering \u201cpurba\u201d yang sudah tidak lagi digarap terhampar tersebar di sekitar Gua Gede. Jejak pertanian pada masa ini tampak melalui Batu Jijih atau Batu Moncong yang terdapat di dalam areal Pura Tunjuk Pusuh di Desa Tanglad. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Jijih<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau gabah dianggap sebagai sumber kehidupan, yaitu sumber pangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya, salah satu peninggalan dari masa megalitik dapat dilihat di Desa Batukandik, yaitu Pura Puseh Meranting. Pura ini menyimpan beberapa peninggalan arkeologis yang terbuat dari batu karang, di antaranya menhir, singgasana batu, arca, serta <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">padma<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang disebut Sanggar Tawang. Ornamen pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">padma<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah manusia kangkang, sering digunakan pada masa prasejarah yang menggambarkan kekuatan spiritual dan magis, terutama sebagai penolak bala dan untuk mendatangkan kesuburan tanaman.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam upaya mengembalikan kemandirian pangan Nusa Penida, pada hari Minggu tanggal 28 April 2024, sekelompok ibu-ibu dan anak muda Rumah Belajar Bukit Keker serta Desa Adat Tanglad mengikuti Pelatihan Pengolahan dan Penyajian Kuliner (makanan dan minuman) serta Penyusunan Rencana Bisnis. Kegiatan dilakukan bekerja sama dengan Ezzyclass.id dari Elizabeth International, dengan dukungan pendanaan dari PT Langgeng Kreasi Jayaprima (Diageo Indonesia) sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan tersebut.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menu yang dibuat adalah:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Be sere lemo. Bahan utamanya adalah ikan, dengan bumbu bawang merah dan putih, tomat, cabai merah dan cabai rawit, terasi, daun jeruk, sere, jeruk limau, dan kaldu jamur. Potong ikan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">fillet<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) tanpa tulang, kemudian keringkan dengan tisu\/lap bersih (jangan dicuci supaya rasa dari ikan tidak hilang). Goreng ikan, jangan terlalu matang, suir dan sisihkan. Selanjutnya siapkan bumbu sere lemo, yaitu ulek\/blender bawang putih, tomat, cabai merah besar, cabai rawit, terasi bakar, minyak, jangan sampai terlalu halus. Tips agar rasa dan warna sambal tidak memudar adalah dengan memblender bumbu-bumbu dengan minyak goreng. Tumis bumbu halus, masukan sereh dan daun jeruk sampai matang dan wangi. Masukkan ikan yang sudah disuir, tambahkan 1 gelas air minum, lalu tunggu sampai bumbu meresap, tambahkan kaldu jamur. Matikan api, tambahkan perasan lemo. Selain dimakan langsung, bisa juga dijadikan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">topping<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk ledok.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ledok. Bahan utamanya adalah beras dan jagung yang dibuat menjadi bubur, dengan campuran labu, kacang panjang nusa, dan aneka dedaunan. Sajian ledok dibuat menarik dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">topping<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> be sere lemo, kentang iris goreng, dan sambal embe, dan sedikit minyak tandusan.\u00a0\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sambal embe. Tips agar warna sambel embe menarik adalah gunakan kunyit ketika menggoreng bawang. Geprek kunyit, masukkan pada minyak goreng yang telah dipanaskan, goreng dengan api kecil. Selanjutnya masukkan bawang putih, angkat. Selanjutnya goreng bawang merah dan cabai hingga kecoklatan.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Es gendar kacang. Bahan utama adalah jaje gendar yang dibuat dari jagung tumbuk. Sebagai pelengkap adalah santan dan kacang merah, sirup kayu cang dan jahe, gula merah, kacang tanah yang dimasak dengan gula merah dan jahe, dan ditambah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ice cube<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Sirup kayu cang dibuat dari 3 ruas jahe, kayu secang 10 gram, gula 100 gram, dan dimasak dalam 350 ml air.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-13587\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/IMG_0690-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"739\" height=\"402\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain makanan, olahan lainnya adalah meramu minuman, yaitu:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bukit Keker spice mojito, dibuat dari jahe, jeruk nipis, jus lemon, sirup kayu cang, daun mint, arak atau soda, dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">crush ice<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Nyurya sewana ring Bukit Keker, terdiri dari jahe, jus lemon, sirup kayu cang, dan es batu, kocok menggunakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">shakker<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bukit Keker ice tea, terdiri dari jus lemon, sirup jahe dan sere, secang, dan sprite<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai catatan, selain memberikan warna yang menarik, secang juga berfungsi untuk menurunkan kadar alkohol dari 30%-40% menjadi sekitar 13%.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-13588\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/IMG_2640-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"732\" height=\"488\" srcset=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/IMG_2640-300x200.jpg 300w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/IMG_2640-1024x683.jpg 1024w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/IMG_2640-768x512.jpg 768w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/IMG_2640-1536x1024.jpg 1536w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/IMG_2640-2048x1365.jpg 2048w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/IMG_2640-580x387.jpg 580w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/IMG_2640-860x573.jpg 860w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/IMG_2640-1160x773.jpg 1160w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/IMG_2640-1440x960.jpg 1440w\" sizes=\"(max-width: 732px) 100vw, 732px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain berlatih mengolah serta menyajikan makanan dan minuman khas Nusa, pelatihan yang juga dilakukan adalah menyusun rencana bisnis. Kegiatan ini diikuti terutama oleh anak muda, sebagian di antaranya adalah siswa sekolah. Hal yang penting dilakukan dalam menyusun rencana bisnis adalah:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Latar belakang atas pilihan bisnis yang direncanakan<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Profil usaha, di antaranya meliputi logo dan definisinya, nama produk, visi misi, analisis produk (produk utama dan turunannya), dampak produk (lingkungan, ekonomi, sosial), analisis pasar, pesaing, peluang pasar, media promosi, kekuatan-kelemahan-peluang-tantangan, dan biaya<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Selling price<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> maksimal 70% untuk UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah).\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semangat untuk ibu-ibu dan teman-teman Nusa Penida.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nusa Penida sudah menjadi pusat kehidupan sejak zaman purba atau prasejarah, pada masa kebudayaan batu. Berdasarkan riset yang dilakukan di Gua Gede \u2013 Desa Pejukutan, jejak-jejak kehidupan di Nusa Penida sudah ada sejak masa megalitik, neolitik, mesolitik, bahkan paleolitik. Hasil temuan tersebut menunjukkan bahwa sejak masa purba, Nusa Penida telah menjadi pulau mandiri pangan yang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13584,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_mi_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[51,57,4,5],"tags":[],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"2.12.2","language":"id","enabled_languages":["en","id"],"languages":{"en":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"id":{"title":true,"content":true,"excerpt":false}}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13582"}],"collection":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13582"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13582\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13598,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13582\/revisions\/13598"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13584"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13582"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13582"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13582"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}