{"id":13755,"date":"2025-02-20T12:41:18","date_gmt":"2025-02-20T04:41:18","guid":{"rendered":"https:\/\/wisnu.or.id\/?p=13755"},"modified":"2025-02-20T12:41:18","modified_gmt":"2025-02-20T04:41:18","slug":"konstelasi-3-ekosistem","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/2025\/02\/20\/konstelasi-3-ekosistem\/","title":{"rendered":"Konstelasi 3 Ekosistem: Darat, Pesisir, dan Laut"},"content":{"rendered":"<style type=\"text\/css\"><\/style><p><span style=\"font-weight: 400;\">Permasalahan tenurial masih menjadi tantangan besar dalam pengelolaan sumber daya alam yang adil dan berkelanjutan. Konflik yang muncul akibat ketidakjelasan hak-hak atas lahan dan kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat adat dan lingkungan. Konsep tenurial ini adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">bundle of rights<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Belum ada kata yang sepadan dengan kata tenurial di Indonesia, biasanya kata tenurial diterjemahkan menjadi hak kepemilikan atau kepemilikan pribadi sehingga tidak sesuai dengan realitas yang ada di lapangan. Definisi yang tidak sepadan ini menyebabkan terbatasnya dan tertutupnya hak-hak komunitas dalam pengelolaan SDA.<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Bundle of rights<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dalam konsep tenurial ini antara lain hak akses, hak eksploitasi, hak pengelolaan, hak eksklusi, dan hak alienasi\/pemindahtanganan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-13759\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/WhatsApp-Image-2025-02-10-at-10.59.36-1-300x225.jpeg\" alt=\"\" width=\"690\" height=\"507\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama 3 hari dari tanggal 31 Januari hingga 2 Februari 2025, berbagai CSO di Indonesia dan Internasional berkumpul di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng untuk melakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">workshop<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\/lokakarya tentang pembelajaran untuk pengakuan dan pengelolaan berbasis hak masyarakat atas lahan, pesisir dan laut. Lokakarya ini diselenggarakan melalui kolaborasi antara Tenure Facility, Samdhana Institute, Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA), LMMA, dan Packard Foundation. Selain membahas isu-isu tenurial, pembelajaran-pembelajaran di tingkat tapak dari wilayah Maluku, Sulawesi, Bali, dan Papua dalam kegiatan ini juga difokuskan pada pembahasan untuk membangun integrasi wilayah daratan, pesisir, dan laut yang selama ini isunya selalu dipisahkan dan dikotak-kotakkan oleh kebijakan maupun oleh pihak-pihak donor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada tiga rekomendasi atau turunan konkrit yang dihasilkan dari pertemuan ini yaitu:<\/span><\/p>\n<p><strong>A. Membangun kerja kolaboratif untuk percepatan dan perlindungan hak tenurial dan jaminan pengelolaan SDA (darat, pesisir, laut) berkelanjutan<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengidentifikasi usulan wilayah percontohan dan aktor-aktor:<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tejakula-Bali (gunung \u2013 laut), pihak\/aktor yang bisa terlibat adalah desa adat, MDA, Yayasan Wisnu, AMAN Bali, WWF.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Nusa Laut-Maluku, aktor yang terlibat antara lain Baileo, AMAN Maluku, CTC.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Biak-Papua, aktor yang terlibat antara lain: LMMA, dewan adat Biak dll. Sudah didukung Packard selama 25 tahun, bagaimana bisa memanen kerja-kerja yang sudah dilakukan serta menjadi model yang bisa ditiru dan disebarluaskan.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Wilayah Bajau: Suku laut yang bisa mengintegrasikan dari laut ke pulau-pulau, belum ada lokasi spesifik.\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Advokasi model kawasan konservasi laut untuk melindungi keanekaragaman hayati, sosial, budaya, termasuk memperkuat konsep tenurial di kawasan konservasi (Cagar Biosfer Wakatobi, Taman Pulau Kecil Kepulauan Lease).<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pelibatan aktor-aktor kunci; peran \u201cthink tank\u201d peran \u2018movement\u2019, peran \u2018convener\u2019, serta membangun peran-peran baru yang belum ada.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><strong>B. Penyadartahuan isu hak-hak tenurial masyarakat dan jaminan pengelolaan SDA (darat, pesisir, laut) berkelanjutan.<\/strong>\u00a0<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Membangun narasi tanding atas narasi dominan pemerintah terkait jaminan tenurial masyarakat.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pendidikan publik untuk isu tenurial masyarakat khususnya tenurial pesisir dan laut (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">bundle of rights, common property<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">)<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>C. Mengintervensi dan memonitor pelaksanaan perjanjian internasional terkait dengan pengakuan dan perlindungan hak tenurial masyarakat (darat, perairan, pesisir-laut). Perlindungan hak tenurial ada CBD, ILO, Deklarasi PBB yang bisa digunakan dari tingkat kampung hingga internasional.<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-13763\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/WhatsApp-Image-2025-02-10-at-10.59.40-1-300x225.jpeg\" alt=\"\" width=\"686\" height=\"480\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa usulan lain yang muncul adalah bagaimana mendorong munculnya antropolog-antropolog yang membahas isu di pesisir dan laut serta bagaimana untuk mengoptimalkan pengelolaan kawasan taman nasional yang selama ini tidak dikelola secara berkelanjutan dan hanya menghasilkan \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">paper park<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-13758\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/02\/ELM09732-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"660\" height=\"434\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lembaga-lembaga yang hadir yaitu BRWA, WGII, Rare Foundation, Stockholm Environment Institute Asia Centre, LANDESA, FOKER LSM Papua, LMMA, PB AMAN, AMAN Bali, Baileo, LMMA, WWF, BRIN, Yayasan Wisnu, Fisherfolk Community, BRIN, Packard Foundation, Turning Tides, Samdhana Institute, dan Tenure Facility juga menyampaikan komitmen masing-masing lembaga terkait upaya mengintegrasikan ketiga ekosistem darat, pesisir, dan laut.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Permasalahan tenurial masih menjadi tantangan besar dalam pengelolaan sumber daya alam yang adil dan berkelanjutan. Konflik yang muncul akibat ketidakjelasan hak-hak atas lahan dan kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat adat dan lingkungan. Konsep tenurial ini adalah bundle of rights. Belum ada kata yang sepadan dengan kata tenurial di Indonesia, biasanya kata tenurial diterjemahkan menjadi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13757,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_mi_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[55,2,5],"tags":[],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"2.12.2","language":"id","enabled_languages":["en","id"],"languages":{"en":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"id":{"title":true,"content":true,"excerpt":false}}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13755"}],"collection":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13755"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13755\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13764,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13755\/revisions\/13764"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13757"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13755"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13755"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13755"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}