{"id":13905,"date":"2025-06-14T20:05:55","date_gmt":"2025-06-14T12:05:55","guid":{"rendered":"https:\/\/wisnu.or.id\/?p=13905"},"modified":"2025-06-14T20:05:55","modified_gmt":"2025-06-14T12:05:55","slug":"bali-emisi-nol-bersih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/2025\/06\/14\/bali-emisi-nol-bersih\/","title":{"rendered":"Bali Menuju Emisi Nol Bersih 2045: Apa Kata Warga Soal Kawasan Rendah Emisi?"},"content":{"rendered":"<style type=\"text\/css\"><\/style><p><span style=\"font-weight: 400;\">Bali dikenal sebagai surga wisata dunia. Tapi di balik keindahannya, ada tantangan besar yang sedang dihadapi: tingginya volume kendaraan yang mengakibatkan kemacetan dan polusi udara serta perubahan iklim. Provinsi Bali memiliki ambisi menjadi provinsi pertama di Indonesia yang mencapai emisi nol bersih (Net Zero Emissions) pada tahun 2045. Lewat visi ambisius Bali Net Zero Emissions 2045, Provinsi Bali menargetkan 100% energi baru terbarukan untuk pembangkit listrik baru, 100% motor listrik, dan 40% mobil listrik dari total kendaraan. Tapi pertanyaannya: bagaimana caranya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu upaya yang bisa dilakukan yaitu melalui inisiatif Kawasan Rendah Emisi (KRE), zona tertentu yang membatasi kendaraan bermotor berbahan bakar fosil dan mendorong <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">non-motorized transportation<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (NMT) seperti berjalan kaki yang merupakan puncak tertinggi dalam piramida moda transportasi. Contoh moda NMT lainnya seperti sepeda, becak, dokar, dll. Pada bulan Agustus 2023 hingga Januari tahun 2024, tim peneliti dari Yayasan Wisnu melakukan Studi Penelitian Dampak Sosial di Kawasan Rendah Emisi dan Rencana Mitigasi yang Relevan dengan metode kualitatif dan kuantitatif di empat wilayah: Kuta, Sanur, Ubud, dan Nusa Penida. Studi ini bisa terlaksana karena dukungan dan inisiasi dari World Resources Institute (WRI) Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Apa Itu Kawasan Rendah Emisi?<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kawasan Rendah Emisi (KRE) adalah wilayah yang membatasi kendaraan bermotor berbahan bakar fosil, mendorong penggunaan transportasi umum dan ramah lingkungan, sehingga mendukung terciptanya kawasan yang ramah terhadap pejalan kaki. Tujuannya tentu jelas untuk mengurangi emisi karbon, memperbaiki kualitas udara, dan menjaga lingkungan tetap nyaman untuk masyarakat dan wisatawan. Tujuan utamanya sejalan dengan visi besar Bali: Bali Net Zero Emissions 2045, yang berarti Bali ingin menyeimbangkan jumlah emisi karbon yang dihasilkan dan yang diserap hingga mencapai \u201cimpas emisi\u201d.<\/span><\/p>\n<p><b>Masyarakat Sudah Mulai Sadar, Tapi&#8230;<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada 773 responden yang menyuarakan opini soal perubahan iklim, transportasi, dan harapan terhadap kebijakan KRE. Mayoritas warga Bali yang diwawancarai sudah paham apa itu perubahan iklim. Mereka merasakan dampaknya langsung: musim tidak menentu, air laut naik, panen gagal, dan cuaca ekstrem yang membuat pengeluaran listrik makin tinggi. Tapi meskipun sadar, tidak semua orang siap berubah. Beberapa masih khawatir KRE akan menghambat mobilitas, terutama dalam sektor pariwisata. Kebijakan ini juga dapat berdampak pada penurunan pendapatan bagi masyarakat sekitar, terutama untuk masyarakat yang menyewakan kendaraan bermotor konvensional, atau supir lokal dan supir aplikasi online.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-13912\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/2024-05-06-at-14.08.36-300x169.jpg\" alt=\"\" width=\"659\" height=\"356\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada juga yang menyebut kendaraan listrik masih belum praktis karena minimnya fasilitas pendukung seperti stasiun pengisian daya. Berdasarkan jumlah kepemilikan kendaraan, motor tetap mendominasi di semua wilayah serta kepemilikan motor yang paling tinggi adalah masyarakat di wilayah Kuta (774 buah). Menunjukkan masyarakat Bali memiliki ketergantungan tinggi pada kendaraan pribadi yang menghasilkan emisi besar dan minimnya minat masyarakat menggunakan kendaraan umum perlu menjadi perhatian khusus pemerintah. Kendaraan listrik paling banyak dimiliki di Nusa, hal ini menunjukkan tren adopsi awal yang positif. Selain itu, sepeda masih populer di Sanur dan Kuta sehingga menjadi peluang bagus untuk mendorong mobilitas rendah emisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau tujuannya bagus, kami dukung. Tapi jangan sampai kami yang kecil ini jadi korban,\u201d ujar salah satu pelaku usaha kecil di Sanur.<\/span><\/p>\n<p><b>Kendaraan Listrik? Tertarik Tapi Bingung<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menariknya, banyak warga yang penasaran dan tertarik dengan kendaraan listrik. Tapi minat ini belum diikuti dengan fasilitas pendukung yang memadai. Di beberapa wilayah seperti Sanur dan Kuta, motor listrik mulai digunakan oleh ojek online, tapi di Ubud dan Nusa Penida, penggunaannya masih terbatas. Beberapa warga bahkan memilih tetap menggunakan kendaraan konvensional karena lebih murah dan aksesnya lebih mudah.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-13909 aligncenter\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/2024-01-23-at-18.43.05-300x169.jpeg\" alt=\"\" width=\"735\" height=\"298\" \/><\/p>\n<p><b>Siap Berubah, Asal Ada Dukungan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hasil survei menunjukkan bahwa warga dengan persepsi positif terhadap KRE lebih cenderung untuk berubah, seperti mulai memilah sampah, menghemat listrik, atau mencoba kendaraan listrik. Tapi mereka juga butuh dukungan nyata dari pemerintah, seperti:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Infrastruktur kendaraan listrik<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Transportasi umum yang dapat diandalkan<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Edukasi publik yang massif<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kebijakan yang tidak memberatkan warga kecil atau pelaku usaha<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Studi Menunjukkan: Ada Potensi Perubahan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Studi menunjukkan tingkat persepsi positif masyarakat terhadap KRE sedang hingga tinggi, terutama di wilayah Ubud dan Nusa Penida. Persepsi positif ini didasarkan pada:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Optimisme bahwa KRE bisa kurangi polusi<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Adaptabilitas terhadap teknologi baru seperti kendaraan listrik<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Taraf Perubahan Perilaku:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pekerja dewasa dan laki-laki menunjukkan perubahan yang lebih cepat<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pendapatan diatas Rp 10 juta memiliki kecenderungan tinggi dalam perubahan perilaku dikarenakan pendapatan lebih tinggi dinilai memiliki opsi dalam memilih kendaraan seperti kendaraan listrik yang sesuai dengan kebijakan KRE.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Wilayah Ubud dinilai lebih siap daripada Kuta dan Sanur<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada tahap perubahan perilaku ini masyarakat Bali mayoritas masih berada pada tahap preparasi atau determinasi dan beberapa sudah mulai melakukan aksi atau tindakan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-13913\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/2024-06-27-at-12.04.00-5-300x225.jpeg\" alt=\"\" width=\"695\" height=\"489\" \/><\/p>\n<p><b>Perubahan Gaya Hidup: Siapkah Bali?<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Responden muda (di bawah 30 tahun) menunjukkan tingkat perubahan perilaku tertinggi, dari mulai tertarik bersepeda, berjalan kaki, hingga mencoba kendaraan listrik. Namun, hambatan teknis tetap menjadi masalah:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Fasilitas trotoar sempit dan rusak<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak ada tempat duduk atau shelter untuk istirahat<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Minim transportasi umum yang efisien dan nyaman<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKami ingin berubah, tapi fasilitas jalan kaki saja belum aman,\u201d \u2013 Warga Ubud<\/span><\/p>\n<p><b>Suara Lokal dari Lokakarya: Harapan dan Kekhawatiran<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam Lokakarya Studi Dampak KRE (25 Juni 2024), perwakilan desa adat, pemerintah, hingga warga menyuarakan hal-hal penting:<\/span><\/p>\n<p><b>Sanur &amp; Kuta<\/b><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Potensi usaha: penyewaan sepeda, taksi laut rendah emisi, penyediaan SPKLU<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Model KRE ideal: car-free night di pantai Kuta, zona sepeda di Sanur<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Catatan: masih ada resistensi, terutama dari pelaku usaha konvensional<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Ubud &amp; Nusa Penida<\/b><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Potensi usaha: penyewaan motor listrik, pijat refleksi, kuliner lokal<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Model KRE: akses shuttle ke pusat Ubud, kartu masuk bagi warga lokal, car-free day di Nusa Penida<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Catatan: masyarakat Nusa Penida cenderung konservatif, butuh pendekatan khusus<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Peluang dan Tantangan Menuju KRE<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tantangan:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Belum adanya regulasi LEZ (Low Emission Zone) yang kuat<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Potensi konflik dengan pelaku usaha transportasi dan pariwisata<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Minimnya lahan hijau dan tempat parkir legal<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sistem OSS membuka celah alih fungsi lahan massif<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Komitmen atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">political will<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dari pemerintah Provinsi Bali terkait Pendapatan Asli Daerah (PAD) karena selama ini Provinsi Bali menerima pendapatan yang besar dari pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peluang:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Koordinasi dengan desa adat untuk pengaturan ruang &amp; edukasi<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dukungan komunitas muda lewat media sosial &amp; kampanye kreatif<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Penyusunan mekanisme insentif seperti konversi kendaraan dan subsidi EV<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Belajar dari Malioboro: Perubahan Butuh Waktu &amp; Strategi<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Studi lapangan juga membandingkan dengan kisah sukses kawasan Malioboro di Yogyakarta, yang kini menjadi ikon kawasan pejalan kaki dan rendah emisi. Apa kuncinya?<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Rencana bertahap selama 20 tahun<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sinergi antara pemerintah, pemimpin informal, dan masyarakat<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Strategi pemindahan parkir, shuttle, dan kampanye budaya<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bali bisa belajar dari sini: tanpa dukungan akar rumput dan regulasi yang selaras pusat-daerah, KRE bisa jadi hanya wacana.<\/span><\/p>\n<p><b>Kesimpulan: Bali Bisa, Asal Bareng-Bareng<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kawasan Rendah Emisi bukan soal teknologi saja, tapi soal budaya, kebiasaan, dan akses yang adil. Bila dirancang partisipatif, sesuai karakter lokal, dan didukung oleh masyarakat adat maka KRE bisa menjadi solusi nyata untuk udara yang lebih bersih, mobilitas yang lebih sehat, dan pariwisata yang berkelanjutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBali harus banyak berbenah untuk masa depan. KRE bukan proyek cepat saji, tapi kerja jangka panjang.\u201d \u2013 Peserta Lokakarya.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bali dikenal sebagai surga wisata dunia. Tapi di balik keindahannya, ada tantangan besar yang sedang dihadapi: tingginya volume kendaraan yang mengakibatkan kemacetan dan polusi udara serta perubahan iklim. Provinsi Bali memiliki ambisi menjadi provinsi pertama di Indonesia yang mencapai emisi nol bersih (Net Zero Emissions) pada tahun 2045. Lewat visi ambisius Bali Net Zero Emissions&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13914,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_mi_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[55,2,3,5],"tags":[],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"2.12.2","language":"id","enabled_languages":["en","id"],"languages":{"en":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"id":{"title":true,"content":true,"excerpt":false}}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13905"}],"collection":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13905"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13905\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13915,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13905\/revisions\/13915"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13914"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13905"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13905"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13905"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}