{"id":13939,"date":"2026-02-06T10:09:05","date_gmt":"2026-02-06T02:09:05","guid":{"rendered":"https:\/\/wisnu.or.id\/?p=13939"},"modified":"2026-02-06T10:17:29","modified_gmt":"2026-02-06T02:17:29","slug":"suara-diantara-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/2026\/02\/06\/suara-diantara-dunia\/","title":{"rendered":"Suara di Antara Dunia"},"content":{"rendered":"<style type=\"text\/css\"><\/style><p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-13984\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/FDB5CE61-A398-42B3-94DD-FEF0B76E4980_1_105_c-300x225.jpeg\" alt=\"\" width=\"665\" height=\"499\" srcset=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/FDB5CE61-A398-42B3-94DD-FEF0B76E4980_1_105_c-300x225.jpeg 300w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/FDB5CE61-A398-42B3-94DD-FEF0B76E4980_1_105_c-768x576.jpeg 768w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/FDB5CE61-A398-42B3-94DD-FEF0B76E4980_1_105_c-580x435.jpeg 580w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/FDB5CE61-A398-42B3-94DD-FEF0B76E4980_1_105_c-860x645.jpeg 860w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/FDB5CE61-A398-42B3-94DD-FEF0B76E4980_1_105_c.jpeg 1024w\" sizes=\"(max-width: 665px) 100vw, 665px\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>Sejarah Pura Jumpayah<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pura Jumpayah adalah sebuah pura suci Hindu yang terletak di Desa Nyambu, Bali. Pura ini didedikasikan untuk pemujaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Prinsip Ilahi Tertinggi dalam agama Hindu Bali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pura Jumpayah memainkan peran utama dalam kehidupan spiritual, budaya, dan komunal desa, berfungsi sebagai titik fokus untuk pengabdian keagamaan, identitas kolektif, dan kohesi sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pura Jumpayah didirikan setelah pawisik, atau wahyu ilahi, yang diterima oleh leluhur desa. Wahyu ini menginstruksikan mereka untuk membangun tempat suci untuk memastikan kesejahteraan, harmoni, dan perlindungan masyarakat yang akan memelihara dan beribadah di pura tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Entitas spiritual utama yang diabadikan di pura ini adalah Ida Ratu Gede Jumpayah, manifestasi ilahi lokal (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sesuhunan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Ia dianggap sebagai kekuatan spiritual pelindung yang membimbing dan melindungi penduduk desa, mewujudkan ekspresi lokal dari realitas ilahi tertinggi, Ida Sang Hyang Widhi Wasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan sekitar 3.400 penduduk dan hampir 67 pura, Nyambu adalah desa di mana kehidupan ritual membentuk kehidupan sehari-hari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baik Ida Ratu Gede Jumpayah maupun Ida Ratu Gede Bagus Sakti termasuk dalam kategori entitas spiritual lokal (Dewa Desa atau sesuhunan). Meskipun pemujaan mereka bersifat lokal, mereka dipahami sebagai manifestasi dari prinsip ilahi universal yang sama dipuja di seluruh Bali. Hal ini mencerminkan karakteristik utama Hindu Bali: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">integrasi teologi universal dengan tradisi spiritual yang sangat lokal<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-13973\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/A3649ADC-0C82-4ABF-8195-61414850A01D_1_105_c-300x225.jpeg\" alt=\"\" width=\"676\" height=\"507\" srcset=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/A3649ADC-0C82-4ABF-8195-61414850A01D_1_105_c-300x225.jpeg 300w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/A3649ADC-0C82-4ABF-8195-61414850A01D_1_105_c-768x576.jpeg 768w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/A3649ADC-0C82-4ABF-8195-61414850A01D_1_105_c-580x435.jpeg 580w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/A3649ADC-0C82-4ABF-8195-61414850A01D_1_105_c-860x645.jpeg 860w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/A3649ADC-0C82-4ABF-8195-61414850A01D_1_105_c.jpeg 1024w\" sizes=\"(max-width: 676px) 100vw, 676px\" \/><\/p>\n<p><b>Barong<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barong adalah figur utama dalam kehidupan ritual Bali. Sering digambarkan sebagai makhluk mitologis mirip singa, ia mewujudkan kekuatan pelindung yang terkait dengan keseimbangan dan vitalitas serta sangat terkait dengan kesejahteraan masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Barong di Pura Jumpayah mewujudkan Ida Ratu Gede Bagus Sakti, entitas penjaga lokal yang diyakini melindungi masyarakat dan menetralkan energi negatif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama upacara, Barong ditarikan. Melalui kombinasi kostum, tarian, dan terutama musik, Barong menjadi kehadiran yang hidup di dalam ruang ritual. Ia bertindak sebagai mediator: kehadirannya mengintensifkan perhatian kolektif, mendukung keadaan trans (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kerauhan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), dan menambatkan upacara dalam pengalaman bersama tentang perlindungan dan pembaruan.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-13944\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/3FBE2F9C-4F36-4791-8081-CA5DBEE560F6_1_105_c-300x225.jpeg\" alt=\"\" width=\"672\" height=\"504\" srcset=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/3FBE2F9C-4F36-4791-8081-CA5DBEE560F6_1_105_c-300x225.jpeg 300w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/3FBE2F9C-4F36-4791-8081-CA5DBEE560F6_1_105_c-768x576.jpeg 768w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/3FBE2F9C-4F36-4791-8081-CA5DBEE560F6_1_105_c-580x435.jpeg 580w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/3FBE2F9C-4F36-4791-8081-CA5DBEE560F6_1_105_c-860x645.jpeg 860w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/3FBE2F9C-4F36-4791-8081-CA5DBEE560F6_1_105_c.jpeg 1024w\" sizes=\"(max-width: 672px) 100vw, 672px\" \/><\/p>\n<p><b>Upacara (<\/b><b><i>Odalan<\/i><\/b><b>)<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Festival utama pura, odalan, diadakan setiap 210 hari menurut kalender Bali dan memperingati pendirian pura serta keberadaan spiritualnya yang berkelanjutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Upacara odalan dirayakan di seluruh Bali, tetapi setiap pura membentuknya sesuai dengan sejarahnya sendiri, tokoh spiritual, dan tradisi artistiknya. Ritual ini dipimpin oleh Pemangku (pendeta pura) dan berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur, pengabdian, dan rasa hormat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan manifestasi-Nya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih dari sekadar acara peringatan, odalan dipahami sebagai momen ketika pura diaktifkan kembali sepenuhnya \u2014 ketika kehadiran ilahi dan leluhur diundang untuk turun, mendiami ruang tersebut, dan terlibat dengan komunitas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Musik, doa, dan gerakan ritual bekerja bersama untuk membuka ruang upacara, memungkinkan batas antara dunia yang terlihat dan tak terlihat menipis untuk sesaat.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-13958\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/752CFF18-898A-4639-BB83-4B426B81520F_1_105_c-300x225.jpeg\" alt=\"\" width=\"677\" height=\"508\" srcset=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/752CFF18-898A-4639-BB83-4B426B81520F_1_105_c-300x225.jpeg 300w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/752CFF18-898A-4639-BB83-4B426B81520F_1_105_c-768x576.jpeg 768w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/752CFF18-898A-4639-BB83-4B426B81520F_1_105_c-580x435.jpeg 580w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/752CFF18-898A-4639-BB83-4B426B81520F_1_105_c-860x645.jpeg 860w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/752CFF18-898A-4639-BB83-4B426B81520F_1_105_c.jpeg 1024w\" sizes=\"(max-width: 677px) 100vw, 677px\" \/><\/p>\n<p><b>Urutan Ritual dan Ruang Suci<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persiapan Odalan biasanya berlangsung selama tujuh hingga sepuluh hari, melibatkan perencanaan yang cermat dan partisipasi kolektif dari seluruh desa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Para wanita menyiapkan persembahan (banten), sementara para pria bertanggung jawab atas memasak dan tugas-tugas logistik lainnya, yang mencerminkan organisasi kehidupan ritual yang saling berbagi dan melengkapi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Odalan berlangsung melalui urutan ritual yang terstruktur dengan cermat. Di pagi hari, Upacara Mesuci dilakukan di sumber air suci (beji), yang melibatkan penyucian patung-patung suci (Pratima) serta para peserta itu sendiri. Ritual ini bertujuan untuk membersihkan energi negatif dan mempersiapkan baik benda-benda maupun komunitas untuk upacara utama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sore hari, urutan ritual berlanjut dengan Upacara Mendak, yang secara simbolis menyambut turunnya manifestasi ilahi ke kuil. Momen ini disertai dengan Tarian Rejang dan diikuti oleh Tarian Pendet. Selama tarian-tarian inilah Barong muncul, diikuti oleh para pria yang mengenakan topeng leluhur.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saat mereka memasuki ruang ritual, suasana semakin intens: gerakan, suara, dan perhatian menyatu, dan tarian mengambil peran mediasi antara dunia yang terlihat (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sekala<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) dan alam yang tak terlihat (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">niskala<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ritual utama upacara ini adalah Ngaturang Pengodalan, di mana persembahan secara resmi dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan manifestasi-Nya. Ini diikuti oleh doa bersama, pertunjukan terakhir Tarian Pendet, dan ritual Ngider Bhuana, di mana Pratima dibawa dan ditarikan mengelilingi kuil tiga kali, melambangkan kembalinya kehadiran ilahi ke alam asalnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Unsur-unsur simbolis yang hadir sepanjang upacara membawa makna spiritual yang mendalam. Persembahan mengungkapkan rasa syukur dan pengabdian, topeng dan kostum mewujudkan kekuatan suci, dan gerakan tarian melambangkan harmoni antara manusia, alam, dan ilahi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepanjang odalan, urutan ritual mengikuti struktur yang diturunkan dari generasi ke generasi. Ini beroperasi sebagai aliran ritual, membimbing komunitas dari persiapan hingga pertemuan, dan akhirnya menuju pelepasan dan penataan kembali.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-13953\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/68F47A7E-CD92-47EE-A1DA-E08F6375D039_1_105_c-300x225.jpeg\" alt=\"\" width=\"663\" height=\"497\" srcset=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/68F47A7E-CD92-47EE-A1DA-E08F6375D039_1_105_c-300x225.jpeg 300w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/68F47A7E-CD92-47EE-A1DA-E08F6375D039_1_105_c-768x576.jpeg 768w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/68F47A7E-CD92-47EE-A1DA-E08F6375D039_1_105_c-580x435.jpeg 580w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/68F47A7E-CD92-47EE-A1DA-E08F6375D039_1_105_c-860x645.jpeg 860w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/68F47A7E-CD92-47EE-A1DA-E08F6375D039_1_105_c.jpeg 1024w\" sizes=\"(max-width: 663px) 100vw, 663px\" \/><\/p>\n<p><b>Peran Musik dalam Odalan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Musik memainkan peran utamal sepanjang upacara odalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di Pura Jumpayah, Seka Gong terdiri dari sekitar dua puluh musisi desa yang memainkan perangkatl gamelan yang terdiri dari metalofon (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">gangsa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), deretan gong kecil, simbal genggam (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ceng-ceng<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), dan kendang, yang memandu dan mengkoordinasikan kelompok tersebut. Lagu-lagu yang dimainkan selama setiap odalan umumnya sama, mengikuti bentuk musik (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">tabuh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) yang spesifik untuk pura dan diturunkan melalui tradisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Musik gamelan Bali dibangun di atas prinsip-prinsip pelapisan dan saling ketergantungan. Garis melodi dibagi antara instrumen, terjalin melalui pergantian cepat dan pola komplementer, menghasilkan suara yang terasa sangat tepat dan terus bergerak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam kerangka kerja tetap ini, musik tetap sangat responsif. Perubahan tempo membawa makna yang jelas: bagian yang lebih lambat mengiringi doa dan persembahan, sementara tempo yang lebih cepat mendukung tarian dan prosesi, terutama selama penampilan Barong. Meskipun repertoar mengikuti pola yang sudah mapan, para musisi terus-menerus menyesuaikan permainan mereka dengan ritual yang sedang berlangsung, menanggapi gerakan, perubahan fokus, dan keadaan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trance (kerauhan)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang muncul. Musik tidak hanya mengiringi upacara; musik secara aktif membentuk alurnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Musik juga memiliki fungsi spiritual yang mendalam dalam upacara tersebut. Musik gamelan bertindak sebagai media antara dunia manusia (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sekala<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) dan alam spiritual (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">niskala<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Musik ini membimbing para penari suci dan mengintensifkan keadaan kesadaran yang berubah (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kerauhan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Melalui pengulangan, tempo tertentu, dan intensitas suara yang berkelanjutan, gamelan diyakini membuka keadaan perhatian batin, membuat para peserta lebih reseptif terhadap kehadiran suci.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Musik itu sendiri dipahami sebagai persembahan \u2014 sebuah isyarat suci yang mengundang dan menyambut kekuatan ilahi atau leluhur.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-13949\" src=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/23FA0FBB-5224-4309-B5FA-142A96DCE330_1_105_c-300x225.jpeg\" alt=\"\" width=\"668\" height=\"501\" srcset=\"https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/23FA0FBB-5224-4309-B5FA-142A96DCE330_1_105_c-300x225.jpeg 300w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/23FA0FBB-5224-4309-B5FA-142A96DCE330_1_105_c-768x576.jpeg 768w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/23FA0FBB-5224-4309-B5FA-142A96DCE330_1_105_c-580x435.jpeg 580w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/23FA0FBB-5224-4309-B5FA-142A96DCE330_1_105_c-860x645.jpeg 860w, https:\/\/wisnu.or.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/23FA0FBB-5224-4309-B5FA-142A96DCE330_1_105_c.jpeg 1024w\" sizes=\"(max-width: 668px) 100vw, 668px\" \/><\/p>\n<p><b>Trance, Suara, dan Meditasi Spiritual<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keadaan kesadaran yang berubah yang diamati selama upacara dikenal sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kerauhan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Istilah ini berasal dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rawuh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, yang berarti &#8220;datang,&#8221; dan mengacu pada kedatangan roh atau kekuatan suci di dalam tubuh manusia.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kerauhan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dipahami sebagai momen di mana energi suci, baik itu dewa atau roh leluhur, untuk sementara mendiami individu, mempengaruhi pikiran dan tubuh. Dalam tradisi Hindu Bali, keadaan ini dianggap sebagai bentuk komunikasi spiritual yang sah dan sakral.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kerauhan berfungsi sebagai jembatan antara dunia yang terlihat (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sekala<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) dan alam yang tak terlihat (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">niskala<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Melalui keadaan ini, bimbingan, perlindungan, atau peringatan dapat disampaikan kepada masyarakat, berkontribusi pada pemeliharaan keseimbangan dan harmoni.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka yang mengalami kerauhan umumnya adalah individu yang dianggap siap secara spiritual: praktisi ritual, penari suci, atau pelayan pura (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">pengayah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) yang telah menjalani upacara penyucian dan secara teratur mengabdikan diri kepada pura melalui tindakan pelayanan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngayah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama momen kerauhan, keadaan yang berubah menjadi langsung terlihat di dalam tubuh. Ketegangan otot meningkat, gerakan menjadi terus-menerus, dan tatapan tampak tetap dan terfokus, seolah-olah perhatian tidak lagi diarahkan ke ruang sekitarnya. Tubuh bergoyang, berputar, atau bergerak maju tanpa gangguan, dipertahankan dalam keadaan keterlibatan fisik yang berkelanjutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Musik memainkan peran penting dalam munculnya dan pengaturan keadaan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">trance (kerauhan)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Volumenya intens, seringkali berlebihan, memenuhi ruang dan membenamkan tubuh dalam getaran terus-menerus. Tempo meningkat dan kepadatan musik bertambah, didorong oleh desakan dan pengulangan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ritme<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Suara terakumulasi, menyisakan sedikit ruang untuk pelepasan.<\/span><\/p>\n<p><b>Trance tidak muncul tiba-tiba atau terlepas dari musik; ia terbentuk di dalamnya.<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman ini sangat kolektif dan terpandu: individu yang memasuki kerauhan didampingi dan diawasi oleh Pemangku, musisi, dan komunitas sekitarnya, memastikan bahwa trans tetap terintegrasi dalam kerangka ritual.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/vocaroo.com\/1eCgfrO9Fd8A\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Klik disini untuk mendengarkan gamelan<\/a><\/p>\n<p><b>Kredit<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artikel ditulis oleh Hugo HELD<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Mail: hugo@thelisteners<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Photography: @thelisteners<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Phone: +33 6 67 40 89 34<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; &nbsp; Sejarah Pura Jumpayah Pura Jumpayah adalah sebuah pura suci Hindu yang terletak di Desa Nyambu, Bali. Pura ini didedikasikan untuk pemujaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Prinsip Ilahi Tertinggi dalam agama Hindu Bali. Pura Jumpayah memainkan peran utama dalam kehidupan spiritual, budaya, dan komunal desa, berfungsi sebagai titik fokus untuk pengabdian keagamaan, identitas&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13946,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_mi_skip_tracking":false,"_monsterinsights_sitenote_active":false,"_monsterinsights_sitenote_note":"","_monsterinsights_sitenote_category":0,"footnotes":""},"categories":[73,57,5],"tags":[],"translation":{"provider":"WPGlobus","version":"2.12.2","language":"id","enabled_languages":["en","id"],"languages":{"en":{"title":true,"content":true,"excerpt":false},"id":{"title":true,"content":true,"excerpt":false}}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13939"}],"collection":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13939"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13939\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13988,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13939\/revisions\/13988"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13946"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13939"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13939"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wisnu.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13939"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}