Menyusun Paket Morotai
Morotai merupakan satu dari 10 Bali Baru yang ditetapkan tahun 2016. Kabupaten ini sudah memiliki rangkaian event pariwisata yang mampu mempromosikan karakter, keindahan dan keunikannya, seperti Sail Morotai. Namun di sisi lain diperlukan suatu upaya perlindungan sumber daya alam dan peningkatan kapasitas masyarakat untuk pelibatan masyarakat secara proaktif, juga upaya menjaga potensi sumber daya Morotai.
I-LMMA (Indonesia Locally Managed Marine Area) adalah satu lembaga yang melakukan perlindungan melalui pendekatan pengelolaan lokal kawasan laut “Locally Managed Marine Area” (LMMA). LMMA merupakan sebuah kawasan yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat desa yang ingin mengelola sumber daya alamnya baik di darat, pesisir, dan laut secara baik melalui Peraturan Desa Pengelolaan Sumber Daya Alam (Perdes PSDA).
Usaha perlindungan kawasan melalui Perdes PSDA yang telah dibangun di Morotai belum memberikan dampak yang berarti bagi masyarakat selaku pemilik kawasan, jika tidak diselaraskan dengan pengembangan ekonomi masyarakat. Usaha-usaha komprehensif perlu dilakukan untuk dapat memberikan dampak, khususnya terhadap ekonomi dan keberlangsungan hidup masyarakat. Salah satunya melalui pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis desa. Upaya ini dilakukan I-LMMA bersama Yayasan Wisnu. Tanggal 2-4 November 2023, Yayasan Wisnu berkunjung ke Morotai untuk memfasilitasi Pelatihan Pengembangan Pariwisata Berbasis Desa.

Kamis, 2 Oktober 2023
Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Pulau Morotai, setelah sebelumnya Kepala Desa Gorua sebagai tuan rumah, Direktur LMMA Indonesia sebagai penyelenggara, dan perwakilan Camat Morotai Utara memberikan sambutan. Pada Januari 2023, sebanyak 30 desa telah mendapatkan Surat Keputusan Desa Wisata Morotai. Kepala Dinas Pariwisata mengatakan bahwa Morotai memiliki banyak potensi, di antaranya adalah potensi sejarah terkait dengan Perang Pasifik, potensi alam terutama ombak untuk surfing, dan potensi budaya karena ada banyak suku yang tinggal menetap di Morotai seperti Tobelo dan Gagela.
Setelah makan siang, kegiatan pelatihan dimulai. Pelatihan diikuti oleh 8 desa, yaitu Gorua dan Gorua Selatan, Lifao, Bido, Buho-buho, Hino, Seseli Jaya, serta Loleo. Setiap desa mengirimkan tiga orang wakil, dan di antaranya harus dihadiri oleh perempuan. Materi pertama yang disampaikan adalah tentang pemahanan dan cara menjadi Desa Wisata Ekologis, kemudian tentang teknis menyusun interpretasi.
Peserta dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu Loleo, Gorua dan Gorua Selatan, Bido, Lifao, Buhobuho-Hino-Seseli Jaya. Diskusi dilakukan untuk mengidentifikasi sumber daya yang ada di desa, menentukan atribut penting atau keistimewaan dari setiap sumber daya, menentukan tema, serta menggambarkan lokasi dan jalur perjalanan di dalam peta.
Sebelum berdiskusi, peserta kami ajak untuk bermain. Peserta dibagi menjadi dua kelompok, yaitu perempuan dan laki-laki. Setiap kelompok diminta berdiri dalam satu lingkaran. Kami kemudian membuat lingkaran semakin kecil, hingga akhirnya semua peserta terjatuh dan keluar dari lingkaran. Permainan ini mengggambarkan kondisi yang akan terjadi jika pulau secara perlahan dan terus-menerus diambil oleh orang luar. Orang-orang di dalamnya akan merasa bingung, takut, saling dempet atau saling sikut untuk mempertahankan diri, hingga akhirnya terjatuh dan saling tindis. Hal yang menarik adalah, tidak ada yang berpikir atau bertindak untuk mendorong orang luar yang terus memperkecil lingkaran – pulau tempat tinggal.

Jumat, 3 Oktober 2023
Kegiatan diawali dengan refleksi hari pertama. Salah seorang peserta menjelaskan kegiatan yang dilakukan pada hari pertama, juga materi yang didapat. Pemahaman tentang pariwisata dan ekowisata kemudian dituangkan dalam metaplan, demikian juga harapan dari setiap peserta mengikuti kegiatan ini.
Setiap kelompok selanjutnya mempresentasikan hasil diskusinya:
- Desa Lifao: meliputi areal laut dan darat, yaitu batu lobang, ombak untuk surfing, dan pemandangan air terjun.
- Desa Bido: memiliki beberapa pantai yang lautnya dikenal sebagai lokasi surfing dan diving. Salah satunya pantainya, yaitu Pantai Pitu ditetapkan sebagai KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional).
- Desa Gorua dan Gorua Selatan: fokus di Tanjung Gorango yang berarti hiu. Walaupun terdapat hiu, areal ini aman untuk berenang.
- Desa Loleo: terdapat batu berbentuk meja yang dulunya menjadi tempat tinggal seekor lobster. Pantai Loleo berpasir besi, tempat warga menunggu nelayan pulang dari mancing. Tanjung Amerika ditetapkan sebagai areal KSPN dan saat ini kondisinya sudah rusak.
- Desa Buho-buho, Hino, Seseli Jaya: memiliki areal pantai yang sudah bertalud, juga kaya lamun sebagai habitat biota laut, dan ada areal yang ditetapkan sebagai kawasan lindung laut. Tiga desa ini juga memiliki hutan dengan danau di dalamnya.
Secara umum, setiap kelompok sudah dapat mengidentifikasi sumber daya yang dimilikinya, namun masih terfokus pada areal pantai dan laut yang sudah diwacanakan sebagai tujuan wisata. Selain itu, keistimewaan dari tiap-tiap sumber daya masih perlu digali untuk dapat menentukan keunikan dan keotentikannya.
Diskusi selanjutnya adalah menyusun cerita dari setiap objek atau daya tarik, terkait dengan tema yang akan ditawarkan. Namun sebelumnya, kembali kami mengajak peserta untuk bermain-main, kali ini bermain Pesan Berantai. Peserta kembali dibagi menjadi dua kelompok, berdiri memanjang. Orang di barisan belakang menghapalkan pesan yang terdiri dari sembilan kata. Sampai pada orang yang berdiri di barisan depan, hanya tiga kata yang tersisa. Hal menariknya adalah tidak ada yang berinisiatif untuk menuliskan pesan tersebut agar tetap utuh sampai ke depan.
Permainan inilah yang menjadi pesan awal pentingnya menuliskan cerita, agar interpretasi yang disampaikan tidak berbeda-beda dan tetap utuh. Kemudian, agar lebih mudah memahami cara menyusun cerita dan alurnya, kami berjalan menyusuri pantai dari Gorua ke Gorua Selatan.

Diawali dari pohon beringin (sepertinya termasuk dalam keluarga bakau) lokasi pertemuan kami. Sebagai pohon terbesar di desa, pohon ini berfungsi sebagai sumber oksigen dan keteduhan, sehingga areal di bawahnya difungsikan sebagai pusat kegiatan warga desa, terutama untuk beristirahat siang.
Selanjutnya kami berjalan ke arah selatan. Ada bekas kapal terbuat dari kayu yang saat ini sudah tidak digunakan lagi karena kapal sekarang terbuat dari fiber. Dekat dengan lokasi kapal terdapat makam kuno yang dipercaya sebagai makam tetua pendiri desa. Peserta dari Gorua belum mengetahui informasi lengkapnya, sehingga perlu digali kembali. Kemudian kami tiba di satu tempat sangat indah dan teduh, tempat yang sering digunakan untuk anak PAUD dan TK bermain, juga dimanfaatkan untuk beristirahat. Laut di depan pantai tersebut adalah laut yang sering dgunakan untuk surfing karena ombaknya yang besar.
Kami kemudian berbelok melalui jalan aspal ke arah permukiman desa, dan kembali menyusuri jalan setapak ke arah pantai. Ulalaaa.. warga desa berjejer duduk-duduk di tepi pantai, beberapa di antaranya sambil membawa anak kecil. Ternyata, di tempat itulah semua pesan WA bisa masuk. Lengkap sudah, waktunya berselancar di dunia maya sambil menikmati pemandangan dan semilir angin.
Sabtu, 4 Oktober 2023
Kegiatan dibuka dengan presentasi dari Desa Lifao. Cerita yang disampaikan sudah lebih luas dan lebih detil. Lifao adalah nama orang yang pertama kali berkebun dan tinggal di tempat tersebut, berasal dari Desa Buho-buho. Batu Lobang (atau Batu Balobang) paling tepat dikunjungi ketika matahari terbit, kemudian dilanjutkan dengan berselancar. Surfing atau sitotoro sudah biasa dilakukan oleh masyarakat Bido, menggunakan papan yang dibuat dari kayu tawang. Ketika air surut, kegiatan yang bisa dilakukan adalah totobe atau memancing.
Sementara itu, air terjun kecil dan besar berjarak sekitar 30 km. Sepanjang perjalanan diceritakan ada banyak jenis tumbuhan yang bisa dimakan atau diminum, seperti golopa, matoa, rebung bambu, dan telur soa-soa. Hutan Lifao memiliki keanekaragaman hayati tinggi, di antaranya aneka jenis rebung, pakis, kupu-kupu, burung aneka jenis serangga, dan kuskus.
Sambil melanjutkan menulis dan melengkapi cerita, peserta kami ajak menonton virtual tour Banjar Dukuh Sibetan (https://www.youtube.com/watch?v=Z-zsVvSt-tU&t=1199s) untuk lebih memahami cara menyusun cerita dan menceritakannya.
