Uji Coba Paket DWE Nyambu

Uji Coba Paket DWE Nyambu

“Satu hal yang penting untuk diceritakan dan didiskusikan adalah tantangan yang dihadapi para petani Nyambu saat ini. Ketersediaan air semakin berkurang, menyebabkan waktu tanam harus bergiliran, tidak lagi bersamaan. Ditambah lagi generasi muda, anak-anak dari para petani, tidak lagi melanjutkan profesi orang tuanya. Setelah lulus sekolah/kuliah, tidak ada yang tertarik untuk bekerja di bidang pertanian, apalagi menjadi petani.”

Hal itulah yang menjadi obrolan paling menarik di tepi kali, ketika kami beristirahat dalam kegiatan Ujicoba Paket DWE Nyambu, tanggal 18 Nopember 2024. Padahal Nyambu dikenal sebagai desa urban yang masih memiliki areal persawahan luas, yaitu labih dari 61%. Hal ini diketahui pada tahun 2015, yaitu ketika pemetaan wilayah desa dilakukan. Namun saat ini sudah berkurang lebih dari 5% akibat alih fungsi lahan, juga alih kepemilikan.

Hal tersebut bisa dilihat langsung dari jalur treking DWE Nyambu yang dirubah. Ketika awal DWE Nyambu diperkenalkan tahun 2016, ada tiga paket ekowisata yang disusun, yaitu Susur Sawah, Susur Budaya, dan Bersepeda. Saat itu jalur susur sawah melintasi areal persawahan di sisi utara desa, di Banjar Carik Padang. Namun kemudian lahan sawah di jalur tersebut banyak mengalami alih fungsi menjadi bangunan. Maka kemudian, jalur treking dipindah ke selatan, ke Banjar Mundeh dan Banjar Kebayan. 

Jalur baru DWE Nyambu diawali dari Rumah Nyambu, ke arah timur melewati areal persawahan Subak Mundeh hingga bertemu tukad. Sungai ini merupakan salah satu sumber irigasi sawah-sawah yang ada di areal Banjar Carik Padang. Di sinilah tempat kami berdiskusi sambil beristirahat. Daya tarik pariwisata menjadi tantangan tersendiri dalam upaya mempertahankan sumber kehidupan masyarakat Nyambu.

DWE Nyambu pada dasarnya dibangun sebagai alat untuk membangkitkan rasa cinta warga Nyambu terhadap desa dengan kehidupan dan budaya pertanian yang ada di dalamnya. Dari 67 pura yang tersebar di Desa Nyambu, sebagian besar di antaranya terkait dengan budaya pertanian. Ritual/upacara adat dan keagamaan yang dilakukan pun terkait erat dengan siklus pertumbuhan padi, mulai dari memohon air untuk pengairan, menyemai benih, hingga menyimpan hasil panen di lumbung.

Kami melanjutkan perjalanan ke arah utara hingga bertemu jalan raya, kemudian berbelok ke arah barat sampai di Kantor Desa Nyambu. Pada sekitar tahun 2018, kantor desa sempat difungsikan sebagai tempat penerimaan tamu DWE Nyambu. Desa Nyambu melipuati dua desa adat, yaitu Desa Adat Mundeh dan sebagian Desa Adat Kaba-kaba. Kantor desa terletak di Desa Adat Mundeh, desa tua yang sudah ada sebelum kedatangan Majapahit ke Bali pada abad ke-14.

Titik-titik lain yang dikunjungi adalah Pura Rsi yang menyimpan tapak kaki Dang Hyang Nirartha sebagai bukti kedatangan Beliau di kawasan ini, juga Pura Puseh Desa dan Pura Penataran. Pura Puseh Desa merupakan salah satu bukti keberadaan Mundeh sebagai desa tua, bahkan sebelum abad ke-11, ketika Mpu Kuturan memperkenalkan konsep Tri Murti dan Kahyangan Tiga. Sementara itu, bagian luar dinding Pura Penataran dihias dengan pahatan cerita Tantri yang menyampaikan pesan moral melalui cerita binatang (fabel). 

Setibanya kembali di Rumah Nyambu, kuliner khas Nyambu sudah menunggu. Sayur kelor dan be lindung (belut goreng) menjadi menu andalan, juga perkedel jagung. Sebagian besar bahan baku didapat di desa, bahkan ada yang dipetik langsung di kebun. Setelah menikmati makan siang, mari kita belajar membuat jaje pulung-pulung dan canang. Ternyata pemilihan warna bunga dan peletakannya di canang tidak sembarangan, melainkan disesuaikan dengan warna Dewa: merah (Dewa Brahma) di selatan, putih (Desa Iswara) di timur, warna gelap (ungu/biru – Dewa Wisnu) di utara, dan kuning (Dewa Mahadewa) di barat.

Hal menarik yang dirasakan oleh peserta adalah implementasi atas konsep keberlanjutan, suasana hangat yang diciptakan, kegiatan yang menarik, juga makanan lokal yang lezat. Ada juga beberapa hal yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan, di antaranya pembuatan ventilasi di Rumah Nyambu untuk angin dan pencahayaan, penataan jalan masuk agar tidak becek, penyediaan media informasi yang menarik agar para tamu lebih mudah memahami cerita yang disampaikan, juga mengemas kegiatan agar lebih interaktif dan edukatif.

Leave a Reply

Your email address will not be published.