Meplalian TIKA SUBAK – Permainan Literasi Keuangan

Meplalian TIKA SUBAK – Permainan Literasi Keuangan

Pengelolaan sumber daya komunitas secara bijaksana dapat menciptakan peluang ekonomi yang berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Salah satu cara dalam mengelola sumber daya komunitas secara bijaksana adalah dengan melakukan pencatatan keuangan. Pelatihan Literasi Keuangan ini menggunakan model game/permainan dilakukan untuk meningkatkan pemahaman individu atau kelompok tentang pengelolaan keuangan yang bertanggung jawab.

Permainan ini menggunakan nama TIKA, terinspirasi dari nama kalender tradisional Bali yang disusun berdasarkan perhitungan wariga.  Maka dalam hal ini TIKA merupakan kependekan dari Titi Kelola Artha, cara mengelola keuangan. Sedangkan SUBAK merupakan sistem pengairan sawah di Bali dan dalam permainan ini diterjemahkan menjadi Strategi untuk Bijak atas Keuangan. Jadi TIKA SUBAK merupakan kependekan dari Titi Kelola Artha – Strategi secara Bijak atas Keuangan, dan dapat diartikan sebagai cara mengelola keuangan secara bijak.

Pertama kalinya launching di Baliwoso, Desa Pengotan, permainan ini sudah dimainkan oleh 204 orang dari berbagai desa di Bali. Adapun keseruan yang terjadi di pelatihan literasi keuangan ini antara lain:

Banjar Bukit Sari, Desa Sumberklampok – Sabtu, 1 Maret 2025

Semakin malam semakin seruuu. Bapak-bapak dan ibu-ibu yang sebagian besar adalah pasangan suami istri, ditambah anak muda Banjar Bukit Sari, Desa Sumberklampok dengan semangat bermain Literasi Keuangan di Bale Banjar. Walaupun tidak dilakukan sampai selesai karena sudah terlalu malam, namun sebagian besar peserta sudah memahami bahwa tujuan permainan adalah untuk mengajak peserta mulai mencatat keuangan keluarga.

Desa Pemuteran – Minggu, 2 Maret 2025

Masih di Buleleng bagian barat, permainan Literasi Keuangan dilanjutkan ke Desa Pemuteran. Tim Yayasan Wisnu tiba jam 9 pagi dan sekitar 20 ibu-ibu sudah menunggu. “Bapak-bapaknya kerja. Kalau malam baru bisa gabung. Tapi yang kerja di kebun sekarang bisa dipanggil.” Jadi pesertanya sebagian adalah pasangan suami-istri, sebagian lainnya ibu-ibu saling berpasangan. Semuanya tetap seru dan berbahagia walaupun bermain di tengah suhu panas desa pesisir.

Banjar Lampu, Desa Catur – Rabu, 5 Maret 2025

Perjalanan kami lanjutkan ke Desa Catur di Bangli. “Perlengkapan game-nya boleh ditinggal 1 di sini mbok?” Saking senangnya bermain Literasi Keuangan, ada anak muda yang ingin bermain lagi dengan teman-temannya. Menariknya, ada satu anak muda yang tidak mau ikut mengucapkan “Janji Minum Minuman Beralkohol secara Bertanggung Jawab” karena merasa tidak akan bisa menepatinya.

Desa Pedawa – Minggu, 9 Maret 2025

Kali ini, kami bermain Literasi Keuangan di Pedawa, desa Baliaga di Buleleng. “Cukup 2 Gelas” hanya bisa dibaca subtitle-nya karena suaranya tertutup bunyi hujan di atas genteng. Seperti biasa, permainan tetap berjalan seru. Terlebih lagi, ada seorang Bapak yang tidak percaya dengan kalkulator. Saldo arus kas selalu dihitung secara manual, dan hebatnya di akhir permainan hanya selisih 15 ribu antara catatan saldo dan uang fisiknya. Sementara yang menggunakan kalkulator selisihnya sampai ratusan ribu, bahkan juta.

Desa Bongancina – Selasa, 18 Maret 2025

Setelah sekitar lima tahun tidak berkunjung ke Desa Bongancina – Buleleng, akhirnya kami kembali berkegiatan di Wantilan Desa Bongancina. Yup, bermain Literasi Keuangan bersama pasangan Ibu-ibu dan Bapak-bapak. Hampir semua pasangan mencatat uang masuk dan keluar dengan teliti dan rapi, sehingga selisih antara catatan saldo dan uang fisik di akhir permainan sangat sedikit, bahkan beberapa di antaranya tanpa selisih. Luar biasa!!!

Demikian keseruan permainan literasi keuangan di desa-desa ini. Kegiatan pelatihan ini dapat berjalan dengan lancar atas dukungan dari Diageo Indonesia, salah satu perusahaan yang terletak di Desa Nyambu, Kecamatan Kediri, Tabanan. Program-program sosial yang dilaksanakan ini merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan atas penggunaan sumber daya alam terutama terhadap penggunaan air. Permainan ini terinspirasi dari model game Si Keong Nelayan yang dibuat oleh tim Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI). Nantikan keseruan kami selanjutnya mengunjungi desa-desa di Bali dan road show ke 8 penjuru mata angin. ????~

Leave a Reply

Your email address will not be published.