Gerakan Pemuda Maju untuk Konservasi Air
Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa) berkolaborasi dengan komunitas penerima hibah muda berdaya, Yayasan Wisnu sebagai salah satu anggota komunitas akar daya, Kayoman Pedawa, dan beberapa komunitas di wilayah Buleleng Bali untuk menyelenggarakan Festival Orang Muda. Tema Festival ini adalah “Gerakan Pemuda Hulu, Untuk Konservasi Alam”. Festival ini diselenggarakan pada tanggal 15 Maret 2025, dilakukan secara hybrid dan dihadiri oleh kurang lebih 9 komunitas pemuda dari Catur Desa (Gobleg, Gesing, Munduk, Umejero) dan Panca Desa (Sidetapa, Tigawasa, Cempaga, Banyusri, Pedawa) yang menjadi jaringan Komunitas Kayoman Pedawa, Buleleng. Festival ini juga merupakan kelanjutan dari Festival Wiradewari 2.0 sekaligus bagian dari penutupan Program Orang Muda. Kegiatan yang akan berlangsung dari pagi hingga sore ini menjadi ruang bagi orang muda untuk berdiskusi, berkolaborasi, serta memperkuat organisasi dan jaringan demi keadilan sosial dan iklim, terutama terkait dengan pelestarian air. Air menjadi satu wacana yang sangat penting saat ini ditengah isu tentang krisis air dan anak-anak muda memegang tanggung jawab moral untuk menjaga kelestarian air.

Rangkaian acara terdiri dari pameran poster inisiatif Komunitas Muda Berdaya dan Jaringan Komunitas Kayoman, penampilan Tari Sekar Jagat, kemudian dilakukan sesi pemaparan dan diskusi terkait pengalaman pemuda hulu untuk konservasi air oleh Ketut Santi Adnyana dan Putu Yuli Supriyandana. Ketut Santi Adnyana dari perwakilan anak muda Masyarakat Adat Dalem Tamblingan dan BRASTI menjelaskan bahwa Masyarakat Adat Dalem Tamblingan sudah ada sejak zaman Kerajaan Bali Kuno. Masyarakat adat Dalem Tamblingan mendiami sekitar kawasan danau Tamblingan yang berada di kawasan hutan yang di sebut Alas Mertajati. Nama Tamblingan sendiri diyakini berasal dari kata tamba dan eling, Tamba berarti obat dan Eling berarti sadar, sehingga Tamblingan itu sendiri bermakna “obat penjaga kesadaran”. Sadar akan pentingnya alam dan sadar bahwa alam adalah sumber kehidupan.
Konsep konservasi yang diyakini negara kita umumnya menggunakan konsep konservasi pihak luar, dengan mengeksklusi manusia dengan kawasan. Padahal masyarakat adat sudah memiliki konsep konservasi yang masih relevan hingga saat ini yaitu dengan menjaga kesucian dan kesakralan wilayah konservasi. Saat ini hutan Alas Mertajati berstatus hutan negara dengan beberapa fungsi seperti Taman Wisata Alam (TWA), Cagar Alam, dan Hutan Lidung. Sudah banyak investor yang datang ingin membangun tempat wisata. Sedangkan untuk MADT, kawasan Danau Tamblingan merupakan kawasan suci. Nilai – nilai dalam menjaga kelestarian alam ini banyak diwariskan oleh para leluhur dalam berbagai ritual yang ada di Masyarakat Adat Dalem Tamblingan. Salah satu ritual terbesar yang ada di Masyarakat Adat Dalem Tamblingan adalah ritual Karya Alilitan. Pada ritual Karya Alilitan terkandung konsep Nyegara Gunung yang mengajarkan nilai-nilai konservasi secara holistik, karena Nyegara Gunung adalah sebuah filosofi bahwa antara laut dan gunung adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Ritual ini melambangkan bahwa kesejahteraan yang telah di anugerahi oleh Tuhan harus disebarkan ke semua wilayah dari gunung hingga ke daerah pesisir pantai dan laut. Dalam menjaga nilai-nilai leluhur MADT ini, dibentuklah organisasi BRASTI, kelompok anak muda yang melestarikan dan mendokumentasikan nilai-nilai leluhur untuk membuatnya menjadi prasasti digital serta menjadi ruang dalam gerakan memperjuangkan Alas Mertajati menjadi hutan adat. Kegiatan-kegiatan konservasi yang dilakukan seperti pelepasliaran ikan kuyuh yaitu ikan endemik di Danau Tamblingan yang mulai punah padahal sangat penting dalam ritual. Selain itu kegiatan konservasi air yang dilakukan adalah penanaman dan pembibitan cemara pandak, salah satu tanaman endemik tertua di kawasan Cagar Alam Batukaru yang berperan sebagai tanaman penahan angin, erosi, dan banjir.

Narasumber lainnya yaitu Putu Yuli merupakan Ketua Kayoman Pedawa menjelaskan terkait peran air penting dalam berbagai ritual adat, termasuk dalam ritual Yajna seperti Dewa Yajna, Pitra Yajna, Rsi Yajna, Manusa Yajna, dan Bhuta Yajna. Ritual ini mencakup lima bentuk persembahan suci yang menggunakan air sebagai simbol kesucian dan kehidupan. Sehingga pelestarian sumber mata air di desa Pedawa tidak hanya untuk menjaga ekosistem tetapi juga untuk mempertahankan tradisi budaya. Ada sekitar 25 mata air yang digunakan untuk ritual di desa Pedawa. Atas kesadaran pentingnya pelestarian sumber mata air tersebut maka dibentuklah organisasi pemuda Desa Pedawa yang disebut Kayoman Pedawa. Beberapa program kegiatan Kayoman Pedawa antara lain:
- Pembuatan bibit pohon untuk mendukung kegiatan reboisasi
- Penanaman pohon
- Pemetaan sumber mata air untuk memahami distribusi dan kondisi sumber daya air
- Dokumentasi kegiatan melalui foto dan video
- Program adopsi sumber mata air
- Program edukasi lingkungan kepada siswa dan mahasiswa
Adapun kepemilikan lahan di tempat sumber air sebagian besar masih dimiliki oleh orang Pedawa (54%), orang luar pedawa (27%), dan sisanya dimiliki oleh orang Pedawa dan luar Pedawa (19%). Tantangan yang dihadapi dalam pelestarian sumber mata air antara lain perubahan pola hujan dan suhu global memengaruhi ketersediaan air (perubahan iklim), beberapa wilayah resapan air beralih fungsi menjadi lahan pertanian atau permukiman, tidak semua masyarakat memahami pentingnya pelestarian sumber mata air (perlu melakukan edukasi), dan pembangunan villa di dekat sumber mata air.
Sesi selanjutnya adalah diskusi singkat bersama Jro Jemiwi, seorang life coach untuk mencintai diri sendiri. Banyak sekali hal-hal yang menginspirasi dalam diskusi ini salah satunya adalah bahwa dalam kehidupan saat ini, musuh bersama kita adalah keserakahan. Ditemani hujan yang deras, acara kemudian ditutup dengan penampilan musik oleh BRASTI (Debi S, Ogi dkk). Perwakilan Komunitas Muda Berdaya dari Program Orang Muda Indonesia untuk Kemanusiaan juga hadir secara daring untuk berbagi kisah inisiatif orang muda yang mereka miliki yaitu Youthfel Indonesia, Rumah Bacarita Sejarah, dan Sekolah Pesisi Juang. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya dalam peningkatan kapasitas bagi komunitas muda berdaya. Hal ini merupakan komitmen IKa yang didukung Asian Community Trust (ACT) Jepang untuk meningkatkan kemampuan pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan tujuan membangun keswadayaan bagi komunitas muda.
