Rapat Akhir Tahun Buku 2024: Menapak Jalan Menuju Usia ke-40 Yayasan Wisnu
Pada awal bulan Mei 2025, Yayasan Wisnu menyelenggarakan Rapat Akhir Tahun Buku 2024 sebagai ruang refleksi bersama untuk mengevaluasi capaian organisasi, memperkuat struktur internal, dan menyusun langkah strategis menuju masa depan yang lebih fokus dan berdampak.
Pertemuan ini dihadiri oleh para Pembina, Pengawas, Pengurus, dan Pelaksana Harian. Para Pembina dan Pengawas memberikan masukan mendalam terkait arah gerak Yayasan serta tantangan yang dihadapi di tengah perubahan sosial dan ekologis yang kompleks di Bali.

Capaian 2024: Bergerak dengan Keterbatasan, Berdampak dengan Komitmen
Meski dengan sumber daya yang terbatas, tahun 2024 menjadi saksi kuatnya semangat Yayasan Wisnu dalam kegiatan:
Penguatan Organ Yayasan
- Perluasan kerja sama: 4 proposal diajukan, 1 diterima
- Pembentukan Dewan Pakar dan diskusi reguler: belum terlaksana
- Perbaikan SOP manajemen, ketenagakerjaan, dan keuangan
- Penambahan 2 staf muda dan 8 koordinator desa
- Perayaan HUT ke-31 dengan partisipasi 300+ orang sebagai media penyebarluasan informasi
Pengelolaan Sumber Daya Komunitas (SDK)
- DWE Nyambu: Pokdarwis aktif dengan 6 anggota, peningkatan kapasitas manajerial
- Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Tenganan Pegringsingan: pelatihan komprehensif ekowisata, pengolahan limbah, dan kewirausahaan
- Peningkatan Kewirausahaan:pengelolaan kolang-kaling dan minyak kemiri lewat lembaga adat
- Produksi DWE Natural: memproduksi dan menjual sabun natural, tantangan di perizinan usaha
- Pengembangan JED: penguatan jiwa kepemimpinan pengelola ekowisata muda di 4 desa/komunitas
Riset dan Penyebarluasan Informasi SDK
- Studi Kawasan Rendah Emisi (KRE): analisis persepsi masyarakat di 6 wilayah Bali
- Pemetaan Desa Adat Catur: hasilkan peta batas wewidangan dan dokumen sosial budaya
- Penyiapan Pangkalan Data: peningkatan kapasitas pengelolaan peta dan spasial menggunakan ArcGIS. Kegiatan ini merupakan bagian dari kerjasama antara BRWA, MDA, dan Yayasan Wisnu.
- Unggah website & media sosial:dokumentasi 360° Wisnu Office, feed IG/FB, artikel, dan video Youtube
Jaringan Kerjasama Strategis
- CBIT: bergabung dalam Climate Transparency Hub
- Tim SDA Bali: kontribusi masukan dalam pengelolaan air di Komisi Pendayagunaan SDA
- Fakultas Hukum UI: kolaborasi penyusunan Perdes Sampah di Desa Ped, Nusa Penida
- University at Buffalo: pemetaan citra satelit Danau Tamblingan dan presentasi internasional GeoAI
- Rumah Akar Daya: terlibat dalam gerakan kemandirian pangan, air, dan energi lintas komunitas
Partisipasi Eksternal
Yayasan Wisnu aktif dalam berbagai forum seperti World Water Week, Muswil III AMAN Bali, Lokakarya ICCA, Sekolah Adat Pedawa, dan kerja kolaboratif bersama organisasi seperti IKa, Komnas Perempuan, IDEP, dan lainnya.

Catatan Evaluatif: Memperkuat Dasar, Menyusun Arah
Para pembina dan pengawas memberikan catatan penting sebagai bahan introspeksi dan penguatan:
- Pak Doni mengingatkan pentingnya menulis kontribusi nyata atau swadaya Yayasan, bukan hanya deretan angka dan mitra, agar terlihat bahwa Wisnu bergerak karena komitmen, bukan sekadar karena adanya dukungan pendanaan.
- Pak Sujana menyampaikan keterbatasan bukan halangan selama ada komitmen dan niat tulus. Semoga ke depan pengawasan dan pelaksanaan program dapat berjalan lebih maksimal dan sinergis.
- Bu Diah menekankan bahwa harapan justru tumbuh dari masyarakat akar rumput, yang kini menjadi benteng dalam menjaga Bali. Wisnu bertahan sampai saat ini tidak lepas karena berjalan bersama masyarakat. Mari bersama-sama membuat target, tidak hanya di 2025, tapi tolok ukur hingga tahun 2033 dalam membangun harapan, karena Nusantara adalah gugusan budaya yang beragam.
- Bu Kus mengajak untuk menyoroti peran ibu-ibu dan perempuan dalam konservasi dan ketahanan pangan melalui aksi-aksi kecil seperti penanaman sayur, bumbu, dan kelapa di pekarangan rumah sehingga para ibu-ibu tidak tergantung pada ekonomi pasar. Ibu-ibu juga adalah penjaga culture heritage yang perlu menjadi fokus kerja dan diapresiasi.
- Pak Sadra mengkritisi ketergantungan pada pariwisata dan mendorong hidup mandiri melalui konsep swadesi. Mengajak Yayasan Wisnu untuk membangkitkan kembali kemandirian melalui mekanisme distribusi hasil dan memulai kembali sekolah banjar. Mandiri bukan pilihan tapi keharusan. Bali harus kembali pada jati dirinya sesuai dengan konsep kehidupan yang dirancang oleh leluhur orang Bali.
- Pak Japa menyoroti ancaman pertumbuhan pendatang terhadap adat dan ruang hidup Bali, serta mendorong penguatan awig-awig di desa.
- Pak Ketut Sumarta mendorong strukturisasi kembali program kerja yang lebih terfokus, membangun jaringan ekonomi adat, dan menyusun arah menuju usia Yayasan ke-40 tahun. 32 tahun adalah bukti ketangguhan Wisnu.
- Pak Suar mendorong untuk tidak selalu merendah ketika sesungguhnya kita sedang melakukan kerja besar. Di tengah rekayasa sosial yang mengganggu harmoni, penting untuk menegaskan kembali kebanggaan dan harapan lewat kerja nyata di komunitas.

Harapan dan Langkah ke Depan: Menuju 2033
Rapat juga merumuskan langkah strategis ke depan:
- Menyusun Rencana Jangka Panjang 2025–2033, menandai perjalanan menuju usia emas Yayasan Wisnu ke-40 tahun.
- Memperkuat regenerasi pemimpin desa dan kader muda, serta pelibatan perempuan dalam seluruh siklus program.
- Menyusun kembali fokus program berdasarkan kekuatan desa: kelembagaan, ekonomi, lingkungan, dan riset.
- Menjadi lembaga yang tidak hanya hadir di lapangan, tetapi juga membangun narasi untuk bisa mempengaruhi kebijakan daerah dan nasional dari gerakan akar rumput.
- Membangun branding lembaga yang kuat dengan data dan suara dari komunitas.

Yayasan Wisnu telah bertahan dalam dinamika sosial yang sedang terjadi di Bali maupun tingkat global selama 32 tahun. Hal ini bukan semata karena kekuatan internalnya, tetapi karena komitmennya untuk selalu belajar dari masyarakat dan bergerak bersama masyarakat. Tahun 2024 menjadi tahun reflektif untuk menyiapkan langkah menuju transformasi organisasi yang lebih berdampak dan berakar.
“Selamat ulang tahun ke-32 untuk Yayasan Wisnu. Mari terus berjalan bersama, membangun harapan dari desa, dan menjaga ruang hidup Bali untuk lebih seimbang.”
