Berdialog Akar Daya
Keluarga AKAR DAYA, yang mengakar dan berdaya, kembali berkumpul. Kali ini di Solo, tanggal 14 – 17 Mei 2025. Wisnu kembali bertemu dengan teman-teman dari Jakarta, Sragen, Cirebon, Sagea Halmahera Tengah, dan Nanga-nanga Kendari. Maka, hal pertama yang dilakukan adalah saling menceritakan kegiatan yang telah dilakukan sejak pertemuan pertama pada November 2024, juga tantangan yang dihadapi.

Pada dasarnya, mengelola organisasi sama dengan mengelola keluarga dan mengelola diri sendiri. Prinsip terpenting sebelum dan dalam mengelola satu kegiatan bersama komunitas adalah:
- Olah rasa dan pikiran dengan diri sendiri
- Olah keluarga, untuk memberikan pemahaman kepada keluarga sehingga mendukung apa yang akan dilakukan bersama komunitas
- Olah warga/komunitas, salah satunya dengan cara ngobrol dari hati ke hati
- Olah kegiatan, baik kegiatan utama maupun kegiatan pendukung
- Olah aset/sumber daya, meliputi pengelolaan dan kemanfaatan
- Olah penghargaan/apresiasi atas apa yang sudah dilakukan dan yang sudah dicapai
Sementara itu, hal terpenting untuk keberlanjutan organisasi adalah adanya regenerasi. Indikator bahwa satu organisasi menjalankan regenerasi adalah adanya hal-hal berikut dari generasi tua kepada generasi muda:
- Mengajak kegiatan berjaringan atau berkomunikasi dengan jaringan
- Memberi kewenangan untuk memutuskan, terutama yang terkait dengan hal-hal praktis (bukan strategis)
- Memberikan tanggung jawab dalam menjalankan hal-hal teknis
- Membuka ruang belajar, di antaranya yang terkait dengan fasilitasi, pengorganisasian, dan penelitian
Pada pertemuan kali ini kami melakukan kunjungan ke Desa Plosokerep dan Banyurip di Sragen. Kedua desa ini dipilih sebagai mitra kerja LPTP Surakarta dan saat ini sedang berproses menuju kemandirian, melalui kelompok tani dan pengelolaan perhutanan sosial.
Kelompok Tani Srimakmur, Desa Plosokerep
“Tujuan hidup kita bukan hanya untuk ekonomi, melainkan juga untuk menjalankan amalan.” Pak Edi Narwanto, Ketua Poktan Srimakmur memulai kisahnya. Kelompok tani ini sudah berdiri sejak tahun 1975, dan kemudian di-reorganisasi pada tahun 2018 beranggotakan 20 orang. Saat ini beranggotakan 95 orang dengan usaha utama pengeringan dan penyelipan gabah. Mekanisme yang dijalankan seperti berikut:
- Setiap anggota mengeluarkan modal dengan jumlah sama dan bisa dicicil. Modal yang dikeluarkan diharapkan menjadi alat agar setiap anggota berperan aktif
- Strategi yang digunakan untuk meningkatkan keaktifan dan mengajak petani lain menjadi anggota adalah dengan menginformasikan aset, hasil, dan manfaat lain yang akan diperoleh
- Aset (mesin selip bantuan pemerintah) dikelola dan menjadi tanggung jawab anggota yang dipercaya da mampu mengelola dengan mekanisme sewa, sehingga kelompok tani mendapatkan keuntungan dari sewa alat dan ongkos jasa
- Gabah para petani dibeli dengan harga lebih tinggi dari harga pasar
- Laporan reguler kepada anggota dilakukan setiap bulan bersamaan dengan kegiatan arisan

KPH Sumber Wono, Desa Banyuurip
Sebelum tahun 2019, desa ini merupakan desa miskin ekstrim karena mengalami krisis air dengan tutupan pohon yang sangat rendah. Kondisi ini kemudian diatasi dengan teknologi IPAH (Instalasi Penampungan Air Hujan) Hybrid, sumur resapan modifikasi, dan pengelolaan agroforestri sistem tumpangsari. Penanaman pohon awalnya dilakukan hanya untuk meningkatkan luas tutupan dan berharap akan terjadi penyimpanan air. Melalui teknologi ini, Desa Banyuurip mampu mengurangi dropping air lebih dari 60% dari sebelum tahun 2019, dan saat ini dikenal sebagai Kampung Ramah Air Hujan.

Kunci dari capaian tersebut juga dipengaruhi oleh adanya pemimpin yang berkharisma dan melakukan segala sesuatunya dari hati, seperti berikut:
- Melakukan penanaman pohon dan sayuran serta membuat sumur resapan terlebih dulu, sebelum meminta yang lain juga melakukan
- Aktif mengikuti kegiatan sosial dan berkeliling dari rumah ke rumah, karena hal ini juga sebagai media PRA (Participatory Rural Appraisal) untuk mengetahui kebutuhan masyarakat
- Melakukan kegiatan secara fokus dan perlahan berdasarkan perencanaan
- Menyusun dan menyampaikan laporan reguler kepada warga
Maka kemudian, seperti yang dikatakan mas Jarwanto sebagai Ketua KPH, “Kalau sulit meningkatkan pendapatan, setidaknya kita bisa mengurangi pengeluaran.”
Kunjungan ke kedua desa ini sangat menginspirasi. Bahwa kesejahteraan tidak sama dengan kekayaan ekonomi. Kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan yang saling menghidupi, di mana seluruh anggota kelompok mendapatan manfaat. Juga, pengelolaan lembaga harus dibarengi dengan pengelolaan kawasan dan usaha. Inilah salah satu yang semakin memantapkan Wisnu berupaya mewujudkan kemandirian lembaga. Yuk mariii …
